Ahok: Saya Bukan Kafir, Terima Yesus Adalah Hak Saya

0

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Gubernur non aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjalani sidang ketujuh atas kasus dugaan penodaan agama yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, hari Selasa (24/1).

Sidang kali ini disuguhi pemandangan menarik tatkala saksi pelapor, Muhammad Asroi Saputra, usai memberikan kesaksian.

Ahok menyatakan keberatan atas kesaksian Asroi yang menganggap pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu telah menyakiti umat Islam sedunia. Selain itu, Ahok juga keberatan dengan tafsir surat Al-Maidah ayat 51 yang disampaikan oleh Asroi.

“Saya juga keberatan saudara saksi begitu ngomong Pancasila dan (pemeluk) agama lain, seolah-olah (pemeluk) agama lain bisa keberatan. Namun, satu pihak saksi mengatakan dan mengakui di luar mengucapkan kalimat syahadat, agama lain kafir. Saya keberatan,” kata Ahok.

Di sisi lain, Ahok merasa keberatan dengan pernyataan Asroi tentang dirinya yang menyebut surat Al-Maidah berbohong.

“Terakhir, saya percaya Yesus Tuhan bukan kafir. Saya keberatan Anda menganggap saya kafir, saya bertuhan dan saya terima Yesus adalah Tuhan dan hak saya di negeri Pancasila, saya berhak menjadi apa pun di republik ini,” kata Ahok.

Seperti yang dilansir dari kompas.com, Asroi, setelah menyampaikan kesaksiannya dan mendengarkan keberatan dari Ahok menyalami majelis hakim, dia menghampiri dan menyalami Ahok .

Asroi pun mencoba memeluk Ahok, kemudian Ahok menegaskan dia bukanlah orang kafir seperti yang dituduhkan sebelumnya.

“Saya bukan kafir,” kata Ahok sambil menggelengkan kepalanya.

Asroi hanya tersenyum. Kemudian, adik Ahok yang juga bertindak sebagai anggota kuasa hokum Ahok, Fify Lety Indra, berusaha untuk menenangkan sang kakak dengan memegang pundaknya.

 

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum

Ulama dan Umat Islam Makassar Sampaikan Ultimatum: Adili dan Berhentikan Ahok !!!

0

MAKASSAR – Jika Pemerintahan saat ini tidak peduli dan tidak mau menjaga kesucian agama umat Islam Indonesia, maka kami Umat Islam Indonesia akan membela agama kami dengan cara kami sendiri.

Untuk itu, para tokoh, ulama dan umat Islam Sulawesi Selatan meminta kepada Presiden, Polri, Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung untuk menangkap dan mengadili Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang telah menistakan agama Islam yang merupakan agama yang dianut mayoritas rakyat Indonesia.

“Kami meminta Kementerian Dalam Negeri untuk mendesak Presiden RI memberhentikan secara tidak hormat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menggunakan simbol-simbol dan fasilitas negara melakukan penistaan Agama Islam,” tulis Umat Islam Indonesia Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Petisi 50 dalam siaran persnya, Rabu (12/10).

Berikut isi Petisi Makassar:

Bismillahirrahmanirrahim

Jika Pemerintahan saat ini tidak peduli dan tidak mau menjaga kesucian agama umat Islam Indonesia, maka kami Umat Islam Indonesia akan membela agama kami dengan cara kami sendiri.

1. Melalui DPRD Sulsel, Polda SulSel dan Kodam VII Wirabuana, meminta Kepolisian RI, Kejaksaan Agung, dan Mahkamah Agung menangkap dan mengadili Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang telah menista agama Islam yang dianut mayoritas rakyat Indonesia.

2. Melalui DPRD SulSel, Polda

SulSel dan Kodam VII Wirabuana, DPRD DKI, Kementerian Dalam Negeri, untuk mendesak Presiden RI memberhentikan secara tidak hormat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menggunakan simbol simbol dan fasilitas negara melakukan penistaan Agama Islam.

Semoga petisi ini mendapat respon yang positif dari seluruh pihak utamanya pejabat negara, kepolisian, militer, legislatif, eksekutif, yudikatif dalam rangka mengantisipasi kezaliman yang lebih besar dimasa datang oleh pejabat tersebut sesuai peringatan ALLAH: “Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang tersembunyi dalam hati mereka lebih jahat lagi.” (QS.Ali Imran: 118).

Umat Islam Indonesia SulSel:
1. Aby Ancha Alamsyah
2. Irfan Abdul Gani
3. Sulaiman Gossalam
4. Ir. Zaenal Abidin.S
5. Ir. Agussalim
6. Irfan Yahya
7. Supriadi Yosup Boni
8. Drs. Syamsuriadi MAg
9. DR. Umar Congge
10. Arsyad Yunus
11. HM Amin Syam
12. M. Said Abd.Shamad
13. Muh. Qasim Saguni
14. Harman Tajang, Lc
15. Firmansyah Lafiri
16. Rapung Samuddin
17. Fadel Abdurahman
18. Dr. Rahmat AR, M.A.
19. A. Aladin Mustamin
20. Ir. Abdul Muis, MT.
21. Ir. Tahruna Madjang, M.Sc.
22. Mudzakkir M. Arif, M.A.
23. Ilham Hamid, S.Ag, M.Ag, M.pd.
24. Dr. Ir. H.A. Dirgahayu Lantara, MT,.IPU.
25. Muhammad Ikhwan Abd. Jalil, Lc.
26. Ahkam Abu Faiz, MA.
27. Muhammad Yusron Anshar Lc, MA.
28. Muchtar Dg. Lau
29. Nuzril Isla, ST
30. Ir. Abu Hasan
31. Mawardi Jafar
32. Prof.Dr.Ir.Ahmad Munir, M.Eng
33. Rahim Mayau.
34. Firdaus Malie
35. DR. Uman Jasad

PETISI MAKASSAR ini secara resmi akan disampaikan di kantor DPRD Sulawesi Selatan pada hari Jumat 14 Oktober besok, jam 2 siang.

Kalau Ahok Dinyatakan Bersalah, Berarti Benar, Ini Penyaliban Yesus Era Pascamodern

0

Kalau Ahok dinyatakan Bersalah, berarti Benar, maka jelas ini penyaliban Yesus Era Pascamodern merupakan pernyataan yang tidak terlalu salah kalau umat non-Muslim mengucapkannya.

Pusat pngajaran agama Kristen ialah “keselamatan” yang dibawa oleh Yesus Kristus ke dunia. Dan proses penyelamatan umat manusia itu terjadi lewat sebuah peristiwa yang kita kenal dengan nama “penyaliban”.

Setiap saat, setiap khotbah, peristiwa penyaliban dan proses penyaliban hampir tidak pernah alpa dari ulasan di mimbar-mimbar agama Kristen di mana-mana. Apalagi menjelang Paskah, ada fragmen dan drama penyaliban di-dramakan untuk mengenang peristiwa ini.

Dalam proses penyaliban itu, ada beberapa pihak yang dapat kita bandingkan dulu dan sekarang ini di Jakarta, kalau kita mau samakan penyaliban Yesus dan penyaliban Ahok sebagai sejarah yang berulang-kembali. Dikatanan secara umum di mana-mana “History repeats itself”.

Yang pertama ialah istilah “penistaan agama”. Kedua ialah realitas mayoritas vs minoritas. Ketiga soal desakan dan paksaan kaum mayoritas. Keempat, sikap pemerintah terhadap proses pengadilan dan penghakiman.

Yesus disalibkan dengan alasan Yesus mengaku diri sebagai Raja Dunia, padahal Raja Dunia masih ditunggu oleh orang Yahudi waktu itu, dan bahkan sampai hari ini agama Yahudi masih menunggu Raja mereka datang untuk memulihkan tahta Daud. Pokok aduan ini menjadi dasar dari semua tuduhan yang lain yang ditujukan kepadanya.

Hal kedua ialah mayoritas yang menuntut Yesus/ Ahok disalibkan dan minoritas yang menunggu nasib apa yang akan menimpa kepada Yesus/ Ahok. Bahkan demonstrasi besar-besaran dilakukan di halaman pengadilan, dan mendesak pemerintah segera menjatuhkan hukuman mati bagi Yesus. Ahok dinyatakan bersalah, maka juga merupakan ‘hukuman mati’ bagi karir politiknya sebagai seorang pejabat negara di negara bernama Indonesia. Kecuali Ahok pindah Warga Negara, tetpai selama Ahok ada di Indoneia, maka Ahok dapat dikatakan “mati” disalibkan.

Hal ketiga, desakan dan paksaan begitu luarbiasa sehingga pejabat pemerintah dan hakim tidak punya pilihan lain daripada menyerahkan Yesus untuk disalibkan. MUI, FPI, Muhamadyah dan tokoh Indonesia lainnya secara terbuka mendukung penyaliban Ahok. Hanya sebagian kecil orang Indonesia berpikir untuk membela Ahok, tetapi itu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan seruan untuk menyalibkan Ahok.

Hari ini 15 November 2016 diberitakan dua hari lagi status Ahok akan dikeluarkan oleh Kepolisian RI. Sekarang kita tunggu, apakah kepolisian romawi yang kewalahan dan menyerah kepada desakan mayoritas, ataukah justru Polri sama saja dengan kepolisian Romawi waktu itu, walaupun mencuci tangan dan menyatakan Yesus tidak bersalah, tetapi tetap menyerahkan Yesus untuk disalibkan.

Bagi orang Kristen di manapun kita berada, kita harus belajar kembali apa yang dikatakan Yesus, bahwa “mengikut Yesus ialah memikul salib-Nya”. Semua penderitaan yang telah dialaminya sudah banyak dialami oleh orang Kristen di mana-mana, di seluruh dunia, di sepanjang sejarah manusia. Kini sejarah mengulangi dirinya sendiri, di negara bernama Indonesia.

Gereja-gereja di Indonesia berada di pihak lemah, minoritas, tak berdaya, sama dengan yang dialami Yesus. Apalagi Ahok, ditambah dengan kata-kata beliau yang selama ini diucapkannya begitu tidak Kristiani, kembali membuahkan hasil. Kita berdoa, kiranya Tuhan Yesus turun tangan dalam hal ini, memberikan jalan keluar terbaik bagi umat-Nya di muka Bumi, terutama di Jakarta dan di Tanah Papua, karena dampak dari insiden ini sangat terasa di kedua wilayah.