Jayapura tuan rumah Konferensi Pemuda GIDI se-Indonesia

0

Jayapura, Jubi Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura, Papua akan menjadi tuan rumah konferensi V pemuda GIDI se-Indonesia tanggal 16-23 Juli 2017.

Ketua panitia konferensi, Yunus Wonda mengatakan, kegiatan akan dilaksanakan di Stakin Sentani dan dihadiri perwakilan gereja GIDI dari berbagai wilayah di Indonesia, khususnya Papua.

“Saya imbau kepada semua pemuda GIDI di Indonesia khususnya di wilayah Papua, mendaftarkan diri kepada panitia dan hadiri dalam konferensi yang akan dibuka Gubernur Papua, Lukas Enembe,” kata Wonda, Senin (3/7/2017).

Ia mengingatkan gereja GIDI di seluruh Papua dan Papua Barat serta wilayah lain di Indonesia di antaranya Yogyakarta, Aceh dan Kalimantan agar mengambil bagian dalam konferensi dan mengikuti semua persyaratan yang ditentukan panitia.

“Kantor sekretariat akan dibuka di Sentani. Ini agenda rutin. Ini lanjutan dari konferensi IV di Tolikara, 2015 lalu. Tema konferensi V ini, menyatukan pelayanan GIDI dengan target penginjilan di seluruh Papua dan Indonesia,” ujarnya.

Salah satu kader gereja GIDI di Papua, Orwan Tolli Wone mengatakan, dalam konferensi biasanya dibahas berbagai hal, terutama terkait penginjilan.

“Ya ini memang agenda rutin GIDI. Biasanya konferensi akan menghadirkan ide-ide baru dalam hal penginjian,” kata Orwan.

Menurutnya, konferensi di Sentani, Kabupaten Jayapura mendatang, akan diikuti umat GIDI dari berbagai daerah di Indonesia.

“Di mana wilayah ada gereja GIDI, pasti akan mengutus umatnya untuk hadir, karena ini konferensi se-Indonesia,” ujarnya. (*)

Bupati Mathius Buka Konferensi GIDI Klasis Cycloop Sentani ke-X

0
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.Th, ketika menyampaikan sambutan dalam kegiatan Konferensi GIDI Klasis Cycloop Sentani ke-X tahun 2017, di Balai Trans Sentani, Rabu (21/6).

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.Th, ketika menyampaikan sambutan dalam kegiatan Konferensi GIDI Klasis Cycloop Sentani ke-X tahun 2017, di Balai Trans Sentani, Rabu (21/6).

PASIFICPos.com – SENTANI – Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, membuka Konferensi X tahun 2017 Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Klasis Cycloop Sentani, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (21/6) kemarin siang, di Balai Transmigrasi, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura. Pembukaan kegiatan yang menjadi agenda tiga tahunan ini ditandai dengan pemukulan Tifa serta penyematan tanda peserta konferensi.

Usai pembukaan, Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada GIDI Klasis Cycloop Sentani yang menggelar konferensi X tahun 2017 yang direncanakan berlangsung selama lima hari.

Kita memberikan apresiasi untuk (GIDI) Klasis Cycloop yang hari ini (kemarin) bisa menyelenggarakan konferensi X. Ya, menurut saya ini penting untuk bagaimana perjalanan gereja sampai saat ini dan juga bagaimana rencana kedepan, ujarnya ketika dikonfirmasi wartawan usai membuka kegiatan Konferensi X Tahun 2017 GIDI Klasis Cycloop Sentani, Rabu (21/6) kemarin.

Mereka mengevaluasi dan juga mereka melihat, tadi (kemarin) kita sudah  memberikan beberapa hal atau arahan untuk bagaimana gereja harus menggumuli tantangan kita yang cukup serius. Karena itu, momen ini penting untuk merumuskan hal-hal tersebut, sambung dia.

Diharapkan, konferensi ini menghasilkan sesuatu yang lebih baik untuk diterapkan dalam kegiatan dan memberikan motivasi kepada seluruh jemaat gereja. Selain itu, kata Bupati Mathius, pemerintah tidak bisa jalan sendiri, karena harus merangkul berbagai pihak baik gereja dan agama-agama yang lain. Tapi, juga pihak adat supaya bersama-sama membangun daerah ini.

Melalui kegiatan konferensi ini, Bupati Mathius juga mengajak seluruh jemaat GIDI untuk mendukung pembangunan di Kabupaten Jayapura. Menurutnya, saat ini perbedaan yang ada di Bumi Khenambay Umbay (sebutan Kabupaten Jayapura) dengan keberagaman suku, budaya, adat dan agama harus dapat dimanfaatkan sebagai sebuah pondasi dalam membangun daerah.

Ia menilai, sejauh ini dengan perbedaan yang terjadi tidak menimbulkan konflik yang dapat mengganggu kestabilan pembangunan dan kondisi ini harus dipertahankan terus demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Kita bersyukur kabupaten ini terus kita jaga aman dan terkendali, juga itu karena doa-doa mereka yang terlibat luar biasa dalam proses pembangunan di Indonesia dan kontribusi dari gereja-gereja itu sangat besar sekali. Oleh karena itu, pemerintah wajib untuk membangun kemitraan dan hadir untuk bersama-sama guna memberikan penguatan-penguatan terhadap satu sama lain, tegas Mathius.

Hanya itu yang kita bisa lakukan dalam rangka kemitraan-kemitraan yang kita bangun ini. Kita berdoa mudah-mudahan konferensi ini bisa berlangsung baik dan menghasilkan keputusan-keputusan yang penting untuk masa depan gereja, namun juga untuk masa depan bangsa maupun daerah ini, tukasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Konferensi, Ev. Nelius Suhuniap, S.Th, mengatakan tujuan konferensi Klasis Cycloop Sentani ke-X ini adalah memiliki tiga tujuan diantaranya, pertama merencanakan dan sekaligus menetapkan hasil-hasil keputusan dalam melaksanakan keputusan rapat konferensi tertinggi di tingkat klasis, mengesahkan hasil-hasil keputusan menjadi program kerja dari badan pengurus yang baru (terpilih) untuk periode 2017-2020.

Kedua, lanjut Ev. Nelius yang juga Gembala Jemaat GIDI Bukit Tabor ini menyampaikan, berhubung badan pengurus GIDI Klasis Cycloop Sentani akan berakhir pada tahun 2017 ini, sehingga pihaknya akan melakukan pemilihan untuk badan pengurus yang baru periode 2017-2020 berdasarkan nama-nama calon yang sudah masuk pada pelaksanaan konferensi ini.

Ketiga, mengesahkan dan sekaligus melantik badan pengurus yang baru periode 2017-2020 pada tanggal 25 Juni 2017 mendatang.
Kita akan lantik badan pengurus yang baru pada tanggl 25 Juni nanti. Kegiatan konferensi yang merupakan agenda tiga tahunan ini akan berlangsung selama lima hari mulai dari tanggal 21-25 Juni 2017 mendatang, tandasnya.

Naman-nama calon yang sudah masuk untuk dipilih sebagai badan pengurus yang baru periode 2017-2020, yakni calon ketua (tunggal) adalah Pdt. Reinhard Ohee, S.Th, sedangkan untuk calon wakil ketua ada tiga nama yaitu Ev. Nelius Suhuniap, S.Th, Pdt. Tiban Wonda dan Pdt. Roberth Imbiri, untuk calon sekretaris ada satu nama dan untuk calon bendahara ada tiga nama yang sudah masuk untuk dipilih sebagai badan pengurus baru periode 2017-2020.

Besok, Aksi Damai Gereja-Gereja Papua Bebaskan Ahok, Selamatkan Indonesia dan Pancasila

0
Selebaran Aksi Damai Selamatkan Indonesia dan Selamatkan Pancasila/Roberth

Selebaran Aksi Damai Selamatkan Indonesia dan Selamatkan Pancasila/Roberth

JAYAPURA,-WartaPlus – Perseketuan Gereja-Gereja Papua (PGGP) dan Gereja-Gereja se Kota Jayapura (PGGS)  akan lakukan aksi damai, Senin (15/5) pagi. Ini terungkap dari rilis yang diterima wartaplus.com, Minggu (14/5) pagi. Rilis yang ditanda tangani Ketua PGGP  yaitu  Uskup Jayapura  Mgr Leo Laba Ladjar OFM dan Sekertaris Hardus Desa MA.

Aksi damai ini  menyikapi situasi nasional yang berkembang belakangan ini terkait dengan pemberitaan masalah tuduhan dan putusan pengadilan penistaan agama oleh saudara  Basuki Tjahja Purnama (Ahok), dan terkait dengan itu juga dengan gencarnya pengaruh gerakan radikalisme yang sangat mengganggu rasa aman dan rasa  tenteram, yang secara khusus dimainkan oleh HTI dan FPI.

“Maka pimpinan Persekutuan Gereja-Gereja Papua dan  Gereja-Gerela se Kota Jayapura menampung aspirasi masyarakat, umat kristen dan sejumlah pimpinan gereja setingkat sinode dengan mengadakan rapat koordinasi untuk menampung semua aspirasi yang berkembang,”kata Uskup Jayapura  Mgr Leo Laba Ladjar OFM dalam rilis tersebut.

Diungkapkan, hasil rapat koordinasi dan sikap pimpinan PGGP dan PGGS  itulah yang hendak kami sampaikan dan meminta partisipasi pimpinan gereja-gereja untuk menggelar ‘Aksi Damai Selamatkan Indonesia dan Selamatkan Pancasila’, Senin (15/5) pagi. Kegiatan tersebut  dimulai pukul 10.00 WIT, dengan pawai dari Taman Imbi Jayapura menuju DPRP menemui pimpinan DPRP dan selanjutnya menuju Kantor Gubernur untuk  menemui Gubernur Provinsi Papua.

Terungkap juga  dalam rilis tersebut Ketua Umum  PGGP  Mgr Dr Leo Laba Ladjar OFM akan membacakan surat pernyataan sikap untuk membubarkan HT, FPI dan ormas-ormas penganut paham radikalisme dari bumi Indonesia, permintaan membebaskan Ahok karena terbukti tidak menistakan agama. Pawai ini juga akan diisi dengan orasi-orasi oleh beberapa pimpinan gereja, doa doa syukur  serta mengumandangkan lagu-lagu nasional. [Roberth]

Vonis Ahok Dan Solidaritas Kemanusiaan Di Papua

0

oleh: Daniel Randongkir

Sejak vonis hukum terhadap Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dalam kasus penistaan agama, muncul berbagai aksi solidaritas di kalangan masyarakat sipil Indonesia. Aksi-aksi solidaritas ini terlihat menyebar secara massif dan merata hampir di seluruh wilayah Indonesia. Khusus di Papua aksi solidaritas terhadap Ahok, dilakukan masyarakat di Kota Jayapura, Sentani, Manokwari, Sorong, Biak dan Wamena, melalui “Aksi 1000 lilin”. Aksi-aksi ini kemudian diunggah ke media sosial dan mendapat beragam tanggapan. Opini yang berkembang di media sosial terhadap aksi solidaritas untuk Ahok di Papua, terbagi dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama lebih menunjukan solidaritas dan dukungan terhadap Ahok sebagai korban ‘ketidakadilan’ hukum di Indonesia, sementara kelompok kedua lebih melihat pada ketidakpedulian publik terhadap kasus-kasus kemanusiaan serupa yang terjadi selama ini di Papua. Merespon pro-kontra pendapat terhadap aksi solidaritas bagi Ahok di Papua, perlu kiranya ditelaah dari aspek Politik, Sosial dan Budaya.

Selama lebih dari lima dekade, berbagai macam kasus kekerasan yang menyebabkan tragedi kemanusiaan di Papua, seolah-olah terisolasi dari pandangan publik Indonesia. Sikap pemerintah Indonesia yang tidak serius dalam menyelesaikan kasus-kasus kekerasan di Papua, menciptakan opini massa di Papua sebagai sebuah bentuk “penjajahan” terhadap penduduk asli Papua. Aksi-aksi protes yang dilakukan untuk mencari keadilan hukum terhadap para korban kekerasan di Papua, justru dijawab secara represif oleh aparat keamanan dan kepolisian Indonesia. Situasi ini berbanding terbalik dengan kasus Ahok yang mendapat tanggapan publik secara meluas di Indonesia, termasuk di Papua.

Publikasi kasus Ahok oleh media massa telah menempatkannya sebagai figur politik paling populer dalam beberapa bulan belakangan ini di Indonesia, sementara isu-isu kerkerasan di Papua mendapat publikasi yang lebih luas oleh media internasional. Fenomena publikasi kasus Ahok oleh media Indonesia telah menciptakan opini bahwa kasus ketidakadilan hukum di Indonesia hanya diderita oleh seorang Ahok, sementara kasus-kasus lain menjadi luput dari pemberitaan media massa. Pemberitaan media massa Indonesia yang tidak berimbang, berimbas pada tekanan internasional terhadap perbaikan penerapan hukum di Indonesia. Hukum dipandang lebih berpihak kepada kelompok mayoritas, dan sebaliknya menindas kaum minoritas di Indonesia.

Philip Karma, Tokoh Papua Merdeka, Foto CNN

Philip Karma, Tokoh Papua Merdeka, Foto CNN

Orang Papua memiliki pandangan yang lebih spesifik, sehingga muncul pertanyaan apa bedanya ketidakadilan hukum yang menimpa figur politik seperti Filep Karma dengan Ahok? Keduanya terpenjara karena memperjuangkan kepentingan rakyat jelata. Pandangan politik kaum mayoritas telah menuding Ahok sebagai “penista agama”, demikian pula Filep Karma dituding sebagai “penista ideologi negara”. Lalu mengapa sampai reaksi solidaritas terhadap Ahok bisa lebih populer dibandingkan Filep Karma? Jawaban terhadap pertanyaan ini memberikan kesimpulan bahwa kehadiran negara hanya sekedar memenuhi kebutuhan kaum mayoritas di Indonesia.

Stigma “penistaan agama” dan “penistaan ideologi negara” telah menjadi alat untuk membungkam gerakan kaum minoritas dalam mencari keadilan di Indonesia. Beruntung orang Papua memiliki cara lain dengan membangun kampanye internasional guna menggalang dukungan solidaritas. Reaksi internasional terhadap kasus Ahok juga datang dari organisasi internasional seperti Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-bangsa dan juga Amnesti Internasional, dukungan serupa juga diberikan kepada Filep Karma. Terdapat perbedaan signifikan antara dukungan yang diterima oleh Ahok dengan Filep Karma. Dalam skala nasional, dukungan solidaritas di Indonesia secara kuantitatif lebih berpihak kepada Ahok dibandingkan Filep Karma. Kaum moderat, nasionalis dan sekuler lebih menunjukan solidaritasnya terhadap Ahok, sementara dukungan terhadap Filep Karma hanya datang dari kaum moderat. Sementara dalam skala lokal, dukungan bagi Ahok dan Filep Karma terlihat lebih berimbang.

Beragam dukungan terhadap Ahok dan Filep Karma dapat disebabkan oleh berbagai alasan, seperti agama, pandangan politik, ideologi, maupun budaya. Sekalipun sama-sama memperjuangkan perubahan politik dan pelayanan publik yang lebih baik, Ahok tentunya lebih populer di Indonesia karena memperjuangkan perbaikan demokrasi di Indonesia. Sebaliknya Filep Karma dianggap sebagai “musuh negara” karena memperjuangkan perbaikan demokrasi di luar Indonesia dengan tujuan mendirikan “Negara Papua Barat”. Walaupun Ahok dan Filep Karma sama-sama memiliki komitmen untuk membangun demokrasi, namun mereka memiliki cara yang berbeda untuk mewujudkannya, disinilah faktor yang mempengaruhi tingkat dan jumlah dukungan solidaritas terhadap keduanya.

Satu hal yang tidak boleh diabaikan dalam melihat dinamika sosial-politik di Indonesia adalah orientasi ideologi yang berakar jauh dalam kebudayaan lokal. Gerakan-gerakan perubahan sosial-politik masyarakat sipil sebenarnya telah dilakukan sejak ribuan tahun sebelumnya. Dalam konteks budaya gerakan seperti ini sering disebut Gerakan Cargo Cult atau Gerakan Mesianis. Pada Masyarakat Jawa, gerakan seperti ini dikenal dengan nama Gerakan Ratu Adil, sedangkan di Papua memiliki beragam nama lokal seperti Koreri, Hai, Nabelan-Kabelan dan sebagainya. Pada hakekatnya gerakan-gerakan seperti ini berorientasi pada tatanan sosial-politik masyarakat yang lebih damai, harmonis dan setara, dengan menempatkan tokoh pemimpin gerakan sebagai Tokoh Mitologi yang dipercaya sebagai titisan Dewa atau Tuhan. Dalam konteks demikian, baik Ahok maupun Filep Karma dipercaya oleh para pendukungnya sebagai tokoh yang akan membawa masyarakat kepada tujuan politik mereka. Dengan demikian maka pemenjaraan terhadap Ahok ataupun Filep Karma tidak akan menghentikan gerakan perubahan di tengah masyarakat, karena ideologi mereka masih tetap hidup dalam pemikiran para pendukungnya yang berada di luar penjara.

Menanggapi dinamika aksi solidaritas kemanusiaan baik terhadap Ahok maupun korban-korban ketidakadilan hukum di Papua, perlu kiranya mendorong suatu gerakan bersama yang tidak menempatkan para korbannya dalam konteks yang berbeda. Perjuangan terhadap keadilan sesungguhnya tidak dibatasi oleh kedaulatan politik lokal, nasional dan regional. Gerakan perubahan ini harus ditempatkan dalam konteks global, sebagai upaya untuk mewujudkan tatanan masyarakat dunia yang lebih damai, harmonis dan setara.

Penulis adalah alumni Antropologi Universitas Cenderawasih

Sumber: http://www.sastrapapua.com/

Franklin Graham Serukan Pada Semua Umat Kristen Dunia Doakan Ahok

0
Pendeta dan Penginjil dari Billy Graham Evangelistic Association, Franklin Graham, menyerukan umat Kristen di seluruh dunia untuk bersatu dalam doa untuk gubernur DKI Jakarta yang saat ini nonaktif karena menjalani kampanye, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang saat ini menghadapi tuduhan penghinaan agama.
Menurut New York Times yang dikutip ulang Gospel Herald, pada hari Rabu (14/12) dengan mengutip dari fanpage facebook Franklin Graham, putra dari penginjil Billy Graham, menyerukan umat Kristen di seluruh dunia untuk berlomba-lomba memberi dukungan kepada Ahok.
“Kita perlu berdoa untuk gubernur Jakarta beragama Kristen, Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama, yang diadili karena apa yang disebut sebagai penghujatan, yang konyol,” kata  Graham.
“Dia adalah gubernur pertama non-Muslim dari ibu kota Indonesia. Berbagai tuduhan dialamatkan kepadanya karena dia adalah seorang Kristen,” kata dia.
“Ini adalah penganiayaan yang terjadi di seluruh dunia, mari kita berdoa untuk orang ini dan keluarganya,” kata dia.
Dalam Gospel Herald dijelaskan bahwa Basuki Tjahaja Purnama merupakan laki-laki asal etnis Tionghoa dan pemeluk Kristen pertama dalam 50 tahun menahkodai ibu kota Indonesia tersebut.
Ahok, menurut New York Times yang dikutip ulang Gospel Herald, dituduh melakukan pelanggaran undang-undang penistaan agama saat memberikan kata sambutan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, pada September 2016.
Ahok telah membantah tuduhan penistaan agama, dan mengatakan ucapannya tersebut ditujukan untuk politikus yang bersikap tidak benar dengan menggunakan ayat Alquran terhadap dirinya.
Jaksa penuntut mengatakan Ahok melakukan penghinaan terhadap Islam dengan menyalahgunakan ayat tersebut dalam rangka meningkatkan dukungan publik menjelang pemilihan gubernur, menurut BBC yang dikutip ulang Gospel Herald.
Penginjil berusia 64 tahun tersebut menambahkan bahwa The Billy Graham Evangelistic Association akan menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) “World Summit in Defense of Persecuted Christians” atau Pertemuan Dunia untuk Umat Kristen Teraniaya di Washington DC, pada 10-13 Mei 2017.
Pertemuan tersebut dihelat dalam rangka mengekspos masalah ini dan untuk membantu mendidik para politikus di Washington DC dan kepada publik di Amerika Serikat tentang penganiayaan yang terjadi terhadap Kristen di seluruh dunia. (gospelherald.com)

Sukseskan konferensi wilayah Bogo, Ketua DPRD Mamteng bantu Rp100 Juta

0
Ketua DPRD Kabupaten Mamberamo Tengah, Berius Kogoya, S.Th menyerahkan bantuan yang diterima Ketua Klasis GIDI Wilayah Bogo, Pdt. Gad Yikwa – Jubi/IST

Ketua DPRD Kabupaten Mamberamo Tengah, Berius Kogoya, S.Th menyerahkan bantuan yang diterima Ketua Klasis GIDI Wilayah Bogo, Pdt. Gad Yikwa – Jubi/IST

Kelila, JubiJanji Ketua DPRD Kabupaten Mamberamo Tengah (Mamteng), Berius Kogoya, S.Th untuk mendukung kegiatan Konferensi Gereja GIDI Wilayah Bogo akhirnya direalisasikan.

Dalam kunjungannya ke jemaat Kiyume, Klasis Kira Wilayah Bogo, Distrik Kelila Kabupaten Mamberamo Tengah, Minggu (23/4/2017), Ketua DPRD Berius Kogoya berkesempatan menyerahkan bantuan dana segar sebesar Rp100 juta yang diterima Ketua Klasis Wilayah Bogo Pdt. Gad Yikwa sebelum dilanjutkan kepada ketua panitia Hengki Yikwa.

Selain menyerahkan bantuan uang secara tunai, Ketua DPRD Berius Kogoya juga menyerahkan  5 unit mesin babat, parang dan 3 jeriken bensin untuk menunjang kerja panitia.

Berius mengatakan bantuan yang diberikan ini tidak lain untuk ikut membantu kerja panitia dalam menyiapkan kegiatan besar keagamaan seperti Konferensi Wilayah Bogo ini. “Ini merupakan berkat Tuhan sehingga kita kembalikan juga kepada Tuhan sebagai pemilik berkat itu,” ujarnya.

Berius meminta panitia untuk tidak melihat dari besar kecilnya sumbangan. Namun apa yang dilakukan itu sebagai bentuk kepedulian demi suksesnya konferensi ini. “Saya berharap bantuan ini bermanfaat untuk menunjang kerja kepanitian dalam menyukseskan Konferensi Wilayah Bogo,” ucapnya.

Berius yakin apa yang masih menjadi kekurangan dalam persiapan Konferensi Wilayah Bogo akan dilengkapi oleh Tuhan. “Ini pekerjaan Tuhan, sebagai orang percaya kita harus yakin itu,” katanya.

Berius yang juga kader Gereja Injili Di Indonesia ini mengajak seluruh kader GIDI yang ada di Mamberamo Tengah khususnya, maupun di Yalimo, Tolikara, Lani Jaya, Yahukimo, Jayawijaya untuk mendukung penuh dan mensukseskan Konferensi GIDI Klasis Bogo.

Berius mengatakan, sumbangan tidak harus dalam bentuk uang semata. Namun bisa juga dalam bentuk ide, gagasan, tenaga, maupun barang. “Mari berkat yang kita miliki, berapa pun itu, kita sumbang untuk kelacaran kegiatan konferensi,” ucapnya.

Ketua Panitia, Hengky Yikwa menyampaikan terima kasih kepada kepada Ketua DPRD yang sudah membantu panitia demi suksesnya pelaksanaan Konferensi Wilayah Bogo nantinya.

Hengky menegaskan, panitia akan bekerja dengan baik memanfaatkan anggaran yang ada ini sesuai dengan kebutuhan masing-masing seksi untuk kegiatan nantinya bisa berjalan dengan lancar.

Ia mengakui walau Konferensi Wilayah Bogo bergeser dari jadwalnya yakni tanggal 15 Mei ke 25 Mei karena ada pemilu ulang di Tolikara. Namun hal itu tidak mempengaruhi persiapan panitia.

“Soal persiapan, saat ini sudah 80 persen baik dalam menyiapkan ruang sidang, ruang makan, termasuk pembangunan rumah tamu yang saat ini sedang dikerjakan,” ujarnya. (*)

Patung Yesus Kristus tertinggi di dunia akan jadi destinasi wisata internasional di Papua

0
Tim survey Bukit Kayu Batu Jayapura Papua foto bersama sebelum melakukan survey udara - Jubi/Engelbert Wally

Tim survey Bukit Kayu Batu Jayapura Papua foto bersama sebelum melakukan survey udara – Jubi/Engelbert Wally

Sentani, Jubi – Rencana Pemerintah Provinsi Papua membangun Patung Yesus Kristus di Bukit Kayu Batu Kota Jayapura diawali dengan melakukan survei pada lokasi yang akan digunakan mendirikan patung tersebut.

Tim survei yang dipimpin langsung oleh Kepala dinas PU Provinsi Papua ini terdiri dari tim Teknis dan juga sejumlah pematung yang didatangkan langsung dari Jawa serta beberapa wartawan media cetak lokal dan nasional.

Dengan menggunakan pesawat terbang jenis Grand Caravan yang sudah dibooking sebelumnya, tim berangkat dari Bandara Udara Sentani pukul 15.30 WIT menuju Kota Jayapura untuk melihat dari udara lokasi yang akan digunakan. Selang satu jam kemudian tim kembali mendarat di Bandara Sentani.

Djuli Mambaya Kepala Dinas PU Provinsi Papua usai melakukan survei bersama timnya mengatakan bahwa patung Yesus Kristus yang akan  dibangun diatas perbukitan  dekat dengan Kampung Kayu Batu akan menghadap ke arah barat Kota Jayapura.

Dikatakan, patung yang akan dibangun ini merupakan patung tertinggi di dunia, dengan ketinggian patung mencapai 67 meter. Sementara bahan patung yang digunakan dari perunggu dan tembaga serta ada bagian-bagian khusus yang menggunakan emas murni.

“Dengan lahan seluas enam hektar yang sudah kita sepakati, patung ini akan berdiri setinggi 67 meter yang dibawah dari patung tersebut akan juga dibangun seperti museum yang didalamnya tercatat semua sejarah denominasi gereja yang ada di Papua. Setelah jadi, tentu akan menjadi destinasi wisata rohani internasional,” ujar Djuli Mambaya di Sentani, Sabtu (22/4/2017).

Dijelaskannya, proses pembangunan akan dimulai tahun ini dengan biaya yang berkisar 300-500 milyar rupiah. Sebagian urusan terkait pelepasan lahan sudah disepakati dengan pemilik hak ulayat.

“Progres pembangunan akan dimulai tahun ini, urusan hak ulayat sebagian sudah kami bicarakan dengan pemilik hak ulayat. Sementara pematung yang kami bawa untuk membangun patung ini adalah mereka yang benar-benar ahli dalam bidangnya yang berskala nasional dan internasional,” jelasnya.

Secara terpisah, Noor Ibrahim salah satu pematung yang terlibat dalam proses pembangunan patung Yesus Kristus ini mengaku sangat kagum dengan alam di Papua yang menurutnya sangat luar biasa.

“Sangat penting bagi masyarakat Papua secara umum dan khususnya warga kota Jayapura untuk memiliki satu ikon yang kelasnya tidak hanya nasional tetapi dunia,” ungkap pematung lulusan Institut Kesenian Jakarta ini. (*)

Franklin Graham Dukung Kebijakan Trump

0
Penginjil dari Billy Graham Evangelistic Association, Franklin Graham. (Foto: gospelherald.com)

Penginjil dari Billy Graham Evangelistic Association, Franklin Graham. (Foto: gospelherald.com)

NORTH CAROLINA, SATUHARAPAN.COM – Penginjil dari Billy Graham Evangelistic Association, Franklin Graham mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia mendukung pemeriksaan ulang pandangan dari imigran atau pengungsi yang ada di Amerika Serikat (AS) tentang kebebasan dan kemerdekaan.

Franklin Graham juga menyatakan Hukum Islam tidak dapat sejalan dengan Konstitusi Amerika Serikat (AS).

“(Jika mereka ingin diterima di AS), maka falsafah hidup mereka tentang kebebasan dan kemerdekaan seharusnya sejalan dengan kita (Amerika Serikat),” kata Graham, hari Selasa (31/1).

Graham pernah mengatakan hukum syariah bertentangan dengan hukum di AS. Pada bulan Juli 2015, Franklin Graham pernah mengusulkan larangan Muslim memasuki AS, kala itu dia mengatakan AS diserang oleh kekuatan jahat.

Saat ini banyak pendeta di AS harus berhati-hati dengan cara berkhotbah saat kebaktian di hari Minggu, karena mereka khawatir akan mendapat pengaruh pandangan politik.

Pendeta dari First Baptist Dallas, Robert Jeffress adalah sosok pendukung fanatik Trump. Dia mengatakan kepada sebuah acara televisi bernama “Fox and Friends” dengan menjelaskan Trump adalah sosok yang memenuhi tanggung jawab yang diberikan Allah untuk melindungi Amerika Serikat.

Sementara itu pendapat berbeda dikemukakan Scott Arbeiter, kepala World Relief – sebuah organisasi kemanusiaan dari National Association of Evangelicals – yang mengurus tentang imigran mengatakan pihaknya percaya kepada keamanan Amerika Serikat.

“Kami percaya pada pemeriksaan yang hati-hati di imigrasi. Kami tidak berpikir penghentian imigrasi adalah reaksi yang tepat,” kata Scott Arbeiter.

“Mereka (imigran) adalah orang-orang yang menghindar dari terorisme, sebagai bangsa kita mencoba untuk menghentikan terorisme,” kata dia.

Sementara itu di gereja evangelis yang menampung pengungsi, Johnson Ferry Baptist Church di Marietta, Georgia, seorang pendeta yang tidak disebut namanya berdoa dalam sebuah kebaktian agar banyak jemaat yang terdorong menjadi keluarga angkat bagi pengungsi Suriah yang berada di gereja tersebut.

Pendeta tersebut juga berdoa kepada Tuhan untuk memberikan hikmat kepada Trump agar mengeluarkan kebijakan yang dapat melindungi hak hidup bagi imigran, bahkan bagi yang masih dalam kandungan.  (abc11.com)

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum

Korban Pengeboman Gereja Mesir Bertambah Jadi 26

0
Ilustrasi: Warga Kairo, Mesir menyalakan lilin sebagai solidaritas pada korban serangan bom teror di gereja Koptik di Kairo pada hari Minggu (11/12) ketika sedang berlangsung ibadah. (Foto: Dok satuharapan.com/Al Ahram)

Ilustrasi: Warga Kairo, Mesir menyalakan lilin sebagai solidaritas pada korban serangan bom teror di gereja Koptik di Kairo pada hari Minggu (11/12) ketika sedang berlangsung ibadah. (Foto: Dok satuharapan.com/Al Ahram)

KAIRO, SATUHARAPAN.COM – Jumlah korban tewas dalam tragedi pengeboman di sebuah gereja Koptik di Kairo pada akhir pekan lalu bertambah menjadi 26, setelah seorang wanita lanjut usia meninggal akibat lukanya, kata Kementerian Kesehatan Mesir pada Jumat (16/12).

Odette Saleh Mikhail (70) berada dalam kondisi kritis setelah serangan pada Minggu lalu dan sudah menjalani tiga operasi, kata Kementerian Kesehatan dalam sebuah pernyataan.

Dugaan serangan bom bunuh diri dalam misa di gereja Santo Petrus dan Paulus merupakan yang paling mematikan yang menargetkan minoritas Kristen Koptik Mesir belakangan ini.

Sebanyak 23 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit, tiga dari mereka juga dalam kondisi kritis, kata Kementerian Kesehatan, dan sebagian besar korban tewas adalah perempuan.

Kelompok ekstremis Islamic State (ISIS) mengaku sebagai dalang di balik serangan tersebut.

Pihak berwenang Mesir sedang memerangi pemberontakan Islamis yang dipimpin oleh afiliasi lokal ISIS, yang terutama aktif di Provinsi Sinai Utara di wilayah timur negara itu.(AFP/Ant)

Editor : Sotyati

Rapat BPL GIDI ke-53, 90 persen mimbar GIDI berbahasa daerah

0

Nabire, Jubi – Presiden Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), Pendeta Dorman Wandikbo, mengatakan sebagian besar gereja GIDI di Tanah Papua masih menggunakan bahasa daerah dalam menyampaikan firman Tuhan.

“90 persen mimbar GIDI masih pakai bahasa daerah. Dan, sisanya 10 persen, mimbar gereja pakai bahasa Indonesia. Jadi, (buku-buku penafsiran Alkitab berbahasa Lani) ini memang kebutuhan jemaat,” kata Pdt. Dorman Wandikbo kepada Jubi, menanggapi laporan dari wilayah Yamo, dalam rapat Badan Pekerja Lengkap (BPL) GIDI ke-53 di Nabire, Selasa (29/11/2016).

Pimpinan Badan Pekerja Pusat (BPP) GIDI itu menjelaskan saat ini GIDI memiliki 6.000 pendeta. Dari jumlah itu, sebanyak 4.000 pendeta yang melayani diberbagai daerah pelosok di Tanah Papua masih menggunakan bahasa daerah, “hampir semua dalam bahasa Lani,” jelasnya. Gereja yang disebut lahir dari misionaris orang asli Papua itu, hingga kini melayani dengan 52 bahasa di seluruh Indonesia.

Perpustakaan berbahasa Lani

Yamo, satu dari delapan wilayah penginjilan Gereja Injili Di Indonesia, yang berada di Wamena barat, akhirnya memiliki perpustakaan baru, Perpustakaan Penafsiran Alkitab Bahasa Lani. Seperti namanya, perpustakaan ini mengoleksi dan menerbitkan buku-buku tentang cerita dalam Alkitab yang ditafsirkan dalam bahasa Lani.

Ia memiliki sekurangnya 20 judul buku dan telah menerbitkan sedikitnya 1000 buku per judul dalam setahun.

Ia memiliki sekurangnya 20 judul buku dan telah menerbitkan sedikitnya 1000 buku per judul dalam setahun.

“Kami sudah punya Perpustakaan Tafsiran Alkitab,” kata Evanjelis Gandius Enumbi saat melaporkan program penginjilan dan pemuridan dihadapan ratusan penginjil lain dan pimpinan rapat BPL, Senin (28/11/2016).

Perpustakaan Penafsiran Alkitab Bahasa Lani tersebut mulai dibangun pada 2014 dan baru diresmikan pada 16 Oktober 2016, di kota Mulia, Puncak Jaya. Perpustakaan itu kini sudah dipenuhi dengan ribuan buku penafsiran Alkitab yang ditulis dalam bahasa Lani, yakni bahasa daerah yang digunakan oleh sebagian besar penduduk Wamena, khususnya dari wilayah bagian barat.

Evanjelis yang juga guru Alkitab di Mulia itu mengatakan kehadiran perpustakaan itu menjadi media yang sangat baik dalam mendukung program wilayah Yamo dalam menjalankan pelayanan khususnya bagi para penginjil dan calon penginjil yang masih bersekolah di Sekolah Alkitab Mulia.

“Tujuan terutama untuk menjadi pegangan guru-guru Alkitab, kemudian pegangan bagi siswa Alkitab. Ini juga menjadi pedoman bagi hamba Tuhan dalam pelayanannya di gereja. Karena masyarakat umumnya masih bicara dalam bahasa Lani,” ujar Ev. Gandius Enumbi, yang juga Sekretaris Wilayah Yamo kepada Jubi.

Menurut Ev. Gandius, mengaku dirinya jadi lebih memahami maksud penjelasan dalam Alkitab ketika membaca buku tafsiran berbahasa Lani. Hal yang sama juga dirasakan oleh siswa Alkitab yang diajarnya dan jemaat dalam pelayanannya.

“Buku ini sangat membantu karena dulu kita hanya punya Alkitab bahasa Lani, tapi sekarang sudah ada buku-buku penafsiran jadi ini tolong kami lebih mengerti,” kata guru itu.

Buku-buku tafsiran mulai dibuat tahun 1997 oleh Pendeta Leon Dellinger. Ia seorang pendeta dan misionaris dari UFM atau saat ini dikenal sebagai Cross World.

Ev. Gandius mengatakan, penyempurnaan buku dalam bahasa Lani melibatkan sebuah tim yang terdiri dari Pdt. Inenik Tabuni, Ev. Yosep Wonda, Pdt. Telius Wonda, termasuk dirinya.

Ev. Gandius mengatakan, penyempurnaan buku dalam bahasa Lani melibatkan sebuah tim yang terdiri dari Pdt. Inenik Tabuni, Ev. Yosep Wonda, Pdt. Telius Wonda, termasuk dirinya.

“Setiap tahun, kami terbitkan 1000 buku per judulnya. Dan, sekarang ini kami sudah punya sekitar 20 buku tafsiran Alkitab bahasa Lani,” katanya.

Sekretaris wilayah Yamo itu menambahkan, perpustakaan itu juga mengoleksi beberapa buku tambahan seperti buku Doktrin Alkitab, Sejarah Gereja, Etika Kristen, Pemuridan, Konkordansi Alkitab (tentang cara cepat mencari ayat atau judul dalam Alkitab). (*)

Berikut dafar Buku-buku yang telah ditafsirkan ke dalam bahasa Lani.

Perjanjian Lama:
1. Buku Kejadian dan Ayub,
2. Buku Kitab Taurat Keluaran-Ulangan,
3. Yosua-Ruth,
4. I dan II Samuel – I dan II Tawarikh.
5. Mazmur-Pengkotbah,
6. Esra, Nekemia, Ester, dan Agai Sakaria Maleyakhi
7. Yesaya dan Hosea-Sefanya.
8. Yeremia-Yeheskiel.

Perjanjian Baru:
1. Buku Kehidupan Yesus 1
2. Buku Kehidupan Yesus 2
3. Buku Kehidupan Yesus 3
4. Buku Kisah Rasul-I dan II Korintus
5. Buku Galatia-Filemon
6. Ibrani- I,II,III Yohanes
7. Kitab Daniel dan Wahyu.