Penginjil Legendaris AS Meninggal Dunia di Indonesia

0
John Hartman (kanan) saat melakukan pelayanan Kebaktian Kebangunan Rohani di Sulawesi Utara. (Foto: gostudionasional.org)

John Hartman (kanan) saat melakukan pelayanan Kebaktian Kebangunan Rohani di Sulawesi Utara. (Foto: gostudionasional.org)

CIKARANG, SATUHARAPAN.COM – Penginjil asal Amerika Serikat (AS) yang sudah lama melakukan pelayanan di Indonesia, Rev. John Hartman meninggal dunia, hari Selasa (21/3).

Penginjil yang juga pendiri pelayanan media televisi Kristen pertama di Indonesia, Gospel Overseas Studio atau GO Studio itu, sebelum menjadi penginjil memulai pelayanannya di Placerville, California, AS, sejak tahun 1976.

Selain aktif dalam pelayanan di televisi, dengan mendirikan beberapa stasiun televisi lokal, dia juga aktif mengadakan berbagai kebaktian kebangunan rohani (KKR), baik dalam gereja maupun lapangan-lapangan di seluruh Indonesia, Amerika Serikat, dan negara-negara lain.

GO Studio merupakan sebuah pelayanan yang dibangun bukan oleh kekuatan manusia, melainkan dimulai dengan visi dari Tuhan. Kesetiaan Hartman pada visi yang Tuhan berikan membuat GO Studio tetap dapat melayani Tuhan.

Sebelum berkecimpung dalam penginjilan, Hartman bekerja sebagai detektif di LBPD (Long Beach Police Department, California), serta menjadi pengawal dari penyanyi-penyanyi terkenal masa itu, antara lain Elvis Presley dan Michael Landon.

Dalam pekerjaannya sebagai detektif, banyak hal berbahaya yang dia alami. Latar belakang inilah yang membuat dia menjadi seorang pribadi yang keras. Tetapi setelah Tuhan menjamah hatinya, dan menyembuhkan dia dari kanker paru-paru, dia berubah menjadi seorang pribadi yang baru dan menyerahkan sepenuh hidupnya untuk melayani Tuhan.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Rhema Bible College, dia mulai melayani ke berbagai daerah di Amerika Serikat. Namun, sebelum Tuhan mengirimnya ke Indonesia, Tuhan terlebih dahulu mempersiapkan Rev. Hartman di training-ground di daerah permukiman/reservasi masyarakat Indian (Indian Reservation) di Amerika.

Setelah delapan tahun menerima dan menunggu penggenapan visi untuk memulai pelayanan media di Indonesia, Hartman bertemu dengan pendiri Sinode Gereja Bethel Indonesia, Pdt HL Senduk.

Pdt Senduk kemudian mengundang Rev Hartman untuk datang dan melayani di Indonesia. Akhirnya, pada tahun 1991, Hartman dan istrinya mulai melayani di Indonesia.

Editor : Sotyati

Agama : Antara Doktrin Dan Hukum Alam Semesta

0

Agama : Antara Doktrin Dan Hukum Alam Semesta

Doktrin — berasal dari kata latin Latin: “doctrīna” artinya teaching, pengajaran. Bandingkan dengan kata “doctor” arti harfuahnya: “teacher.”

Doktrin: menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia — adalah ajaran (tentang asas-asas suatu aliran politik, keagamaan, pendirian segolongan ahli ilmu pengetahuan, keagamaan, ketatanegaraan) secara bersistem.

Jadi secara singkat doktrin adalah ajaran yang tersistem dan dipercaya oleh penganutnya.

Sementara apa yang saya maksud sebagai hukum alam semesta disini adalah segala sesuatu yang secara alamiah menjadi system dan bekerja tanpa kompromi seperti hukum gravitasi, hukum tabur tuai, dan berbagai hukum lain yang berlaku dalam tingkat social maupun daya alam.

Semenjak manusia hidup dalam planet ini, manusia telah mempercayai keberadaan suatu sosok mahakuasa yang disebut “TUHAN” yang juga disebul sebagai sang pencipta, sang maha esa.

Memang benar bahwa sulit untuk membuktikan keberadaan Tuhan, tetapi lebih sulit untuk membuktikan ketiadaan Tuhan. Jadi, tujuan dari artikel ini bukan untuk membuktikan ada atau tidaknya Tuhan, tetapi sekedar membuka mata agar kita tidak berada dalam kehidupan doktrin yang telah menjadi agama rutinitas.

Jangan membunuh, jangan mencuri diakui seluruh umat didunia sebagai hukum yang bertentangan dengan kehendak “TUHAN”, juga atheis sekalipun mengakuinya sebagai perbuatan tidak benar, mengapa?

Menjawab pertanyaan “mengapa?” dari setiap ajaran agama adalah hal paling penting untuk mengenali sosok “Tuhan” dan kemanusiaan sejati. Anda bisa saja saat ini mengundang orang yang paling kau benci untuk makan bersama dengan sopan santun dan kasih sayang palsu sambil menghidangkan makanan beracun kepada dirinya. Kebaikan yang terlihat bukanlah patokan kebaikan, motif atau “mengapa melakukannya?” menjawab segalanya.

Jika kita kembali ke 2000 tahun silam, setiap suku bangsa memiliki “TUHAN” dan agamanya masing-masing, hingga memasuki abad 21 ini, dunia didominasi beberapa agama dengan sosok “TUHAN”nya yang juga berbeda-beda.

Jika hanya ada satu “TUHAN”, maka agama yang lainnya adalah doktrin berdasarkan keluhuran tempat agama lahir.

Untuk menemukan jawabannya, si “HUKUM ALAM” akan menuntun kita.

“HUKUM ALAM SEMESTA” tidak pernah kompromi. Untuk kebaikan dunia ini, maka kehidupan social manusia harus dilandasi pemahaman akan hukum alam semesta sosial.

Seperti yang kita ketahui sebelumnya, hukum alam juga berlaku dalam kehidupan social, misalnya dalam hukum Newton dikenal hukum aksi-reaksi dalam kehidupan social pun dikenal hukum aksi reaksi J u know it!

Dalam tujuan menciptakan dunia yang damai sejahtera, ajaran agama harus selaras dengan hukum alam. Hukum agama yang tidak selaras dengan hukum alam adalah doktrin semata yang berpotensi merusak keselarasan.

Hukum gravitasi berlaku untuk siapapun, demikian juga dengan hukum Tarik menarik, hukum tabur tuai.

Ketika agama memberi izin membunuh atau terorisme atau kebencian seperti yang sudah terjadi dalam sejarah, hukum alam yang dilanggar mendatangkan resiko negative seperti kekacauan dan ketidakdamaian, ketika manusia mempercayai dengan mentah-mentah suatu doktrin yang dibungkusi plastic agama, wajah dunia berubah menjadi merah.

Jika tidak ingin terjatuh dan tewas dari gedung setinggi 200 meter, sebaiknya mengunakan parasut atau jangan melompat. Dalam pencarian kedamaian dunia, memahami hukum alam semesta akan mengarahkan kita mencapai tujuan.

 

Menaati ajaran agama tanpa kepahaman akan “mengapa” akan membuat kita tersesat suatu waktu. Dengan tersedianya banyak agama , taatilah agama yang mengajarkan ajaran yang tidak bertentangan dengan hukum alam semesta, taatilah ajaran yang berpotensi mendatangkan damai di dunia.

Dalam pandangan ini, pengalaman spritual berbeda dengan peperangan doktrin di dalam pikiran manusia. Kisah-kisah religi memang mengisahkan banyak kisah yang berkaitan erat dengan spritualisme, namun kita musti mengujinya kembali karena mitologi Yunani pun mengisahkan banyak kisah spritual dan telah dipercaya ribuan tahun pula.

Jadi keberadaan agama memang sangat penting, namun Tuhan itu hanya satu, dan banyak ajaran agama telah menawarkan tuhannya masing-masing, tentu hanya ada satu yang benar-benar Tuhan.

Pohon dikenal dari buahnya, jika sumber ajaran yang kita anut baik dan damai, maka penganutnya pun pasti membuahkan kebaikan dan kedamaian.
‘Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh’Albert Einstein

Sumber: http://www.cnhblog.com/

Federasi Uskup Pasifik Minta Papua Tidak Dihambat Masuk MSG

0
ari kiri ke kanan, Uskup Agung Port Moresby, John Ribat MSC, Uskup Parramatta,Vincent Long OFM Conv, Uskup Toowombia, Robert McGuckin, Uskup Palmerston North, Charles Drennan, Uskup Noumea, Michel Calvet SM, dan Uskup Port Vila, John Bosco Baremes SM, (Foto: Chatolic Outlook)

ari kiri ke kanan, Uskup Agung Port Moresby, John Ribat MSC, Uskup Parramatta,Vincent Long OFM Conv, Uskup Toowombia, Robert McGuckin, Uskup Palmerston North, Charles Drennan, Uskup Noumea, Michel Calvet SM, dan Uskup Port Vila, John Bosco Baremes SM, (Foto: Chatolic Outlook)

PORT MORESBY, SATUHARAPAN.COM – Enam uskup yang tergabung dalam Komite Eksekutif Federasi Konferensi Uskup Katolik se-Oseania menyerukan agar pemerintah mana pun tidak menghambat keinginan rakyat Papua untuk bergabung dengan Melanesian Spearhead Group (MSG).

Menghambat keinginan itu, menurut mereka, akan melukai hati semua rakyat Melanesia. MSG, demikian pernyataan itu, adalah tempat alami kolaborasi dan potensi saling memahami yang lebih dalam di antara sesama rakyat Melanesia.

Keenam uskup tersebut bertemu di Port Moresby, Papua Nugini, dan mengeluarkan pernyataan tersebut pada 22 Agustus, sebagaimana dilansir dari catholicoutlook.org. Keenam uksup itu adalah Uskup Agung Port Moresby, John Ribat MSC,  Uskup Parramatta, Vincent Long OFM Conv, Uskup Toowoomba, Robert McGuckin, Uskup Palmerston North, Charles Drennan, Uskup Noumea, Michel Calvet SM,  dan Uskup Port Billa, John Bosco Baremes SM. Keenamnya datang  dari negara-negara Australia, Selandia Baru, Papua Nugini,Kepulauan Solomon dan CEPAC.

Menurut Wikipedia, Oseania (Oceania) adalah istilah yang mengacu kepada suatu wilayah geografis atau geopolitis yang terdiri dari sejumlah kepulauan yang terletak di Samudra Pasifik dan sekitarnya.

Dalam artian sempit Oseania meliputi Polinesia (termasuk Selandia Baru), Melanesia (termasuk dari Maluku sampai Nugini) dan Mikronesia. Sedangkan dalam artian luas  Oseania juga meliputi Australia dan Indonesia bagian timur; namun terkadang Jepang dan Kepulauan Aleut dianggap masuk dalam kelompok Oseania.

Sebagian besar wilayah Oseania terdiri dari negara-negara kepulauan yang kecil. Australia adalah satu-satunya negara kontinental, sedangkan Papua Nugini dan Timor Leste adalah negara yang memiliki perbatasan darat, di mana keduanya berbatasan dengan Indonesia.

Oleh karena itu, tidak terlalu salah apabila para uskup yang bertemu ini dikatakan merupakan wakil dari umat Katolik di Pasifik.

“Kami datang dari banyak negara bangsa kepulauan yang tersebar di seluruh Pasifik,” demikian pernyataan mereka.

“Kami sangat senang berada di sini di PNG dan telah menikmati keramahan yang sangat indah dari bangsa yang hidup ini. Adalah suatu kehormatan bagi kami untuk bertemu dengan Yang Terhormat  Powes Parkop, gubernur Port Moresby, dan kami semua mengucapkan selamat kepadanya dan dorongan bagi pengembangan kota ini dan komitmennya untuk keadilan, integritas dan layanan dalam kepemimpinan sipil,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

“Meskipun kami datang dari beragam budaya dan daerah, sebagai rohaniawan dan gembala hati kami bersatu dalam keinginan untuk mencari apa yang terbaik bagi manusia dan kebaikan bersama bagi masyarakat apapun. Lebih jauh, kami mengikuti contoh dari Paus Fransiskus, imam kita, yang mendorong kita untuk melihat dunia bukan sebagai pasar global, tetapi sebagai rumah universal.”

Menurut pernyataan itu, tahun lalu para uskup telah mendesak pemerintah dan kalangan bisnis untuk mendukung inisiatif Paris COP21 menangani isu-isu perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Mereka mengatakan  berbesar hati melihat bahwa Pemerintah PNG telah mengesahkan UU yang baru dan setuju untuk menerapkan strategi inisiatif itu.

Pada pertemuan kali ini, keenam uskup itu mengatakan mereka memfokuskan diri pada isu tentang Papua. Dalam hemat mereka, rakyat Papua mencari apa yang dicari oleh setiap keluarga dan kebudayaan, yaitu penghormatan terhadap martabat pribadi dan komunal, kebebasan berekspresi bagi aspirasi individu serta hubungan bertetangga yang baik.

“Batas politik tidak pernah dapat membatasi atau mengontrol hubungan etnis dan kami mendesak pemerintah untuk mendukung keinginan rakyat Papua (Barat) untuk berpartisipasi penuh dalam Melanesian Spearhead Group (MSG),” demikian pernyataan tersebut.

Oleh karena itu, keenam uskup mengatakan mendukung deklarasi lintas iman pada tahun 2003 Papua Tanah Damai.

“Menghalangi partisipasi rakyat Papua di MSG adalah luka di sisi semua rakyat Melanesia. Untuk Papua (Barat), MSG adalah tempat alami kolaborasi dan potensi sumber pemahaman  yang lebih dalam,” kata pernyataan itu.

Keenam uskup juga mengucapkan terimakasih atas bantuan pemerintah Indonesia dalam membuat kemungkinan kunjungan uskup dari Papua Nugini dan Kepulauan Solomon  ke Jayapura belum lama ini, untuk bertemu dengan kolega sesama uskup di Papua Barat.

“Kunjungan tersebut selalu untuk menciptakan perdamaian,” kata mereka.

Sejak tahun 2014, United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) telah berupaya untuk diterima di MSG, sebagai perwakilan dari rakyat Melanesia di Papua. Pada tahun 2015, ULMWP mendapat status sebagai peninjau.

Pada saat yang sama, Indonesia juga mengklaim mewakili rakyat Melanesia yang menjadi warga negara Indonesia, yang tersebar di pulau-pulua Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Indonesia telah memperoleh status associate member di MSG pada tahun 2015.

Pertengahan Juli lalu, aplikasi ULMWP untuk menjadi anggota penuh MSG ditunda, dengan alasan masih perlu adanya penyempurnaan kriteria keanggotaan MSG. Keputusan atas aplikasi itu dijadwalkan akan diambil pada pertemuan pemimpin MSG pada September ini Vanuatu.

Menurut Amena Yauvoli, direktur jenderal MSG, kepada tabloidjubi.com, pengajuan aplikasi untuk menjadi anggota penuh sejauh ini hanya dilakukan oleh ULMWP, sementara Indonesia tidak mengajukan aplikasi kepada Sekretariat MSG.

Indonesia selama ini menganggap ULMWP merupakan kelompok separatis.

Editor : Eben E. Siadari

Ditemui Presiden GIdI, Ahok: Gereja GIdI Gereja Injili Bener Ya!

0

KIBLAT.NET, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat apresiasi dari Gereja Injili di Indonesia (GIdI) atas kepemimpinannya di ibukota.

Seperti dimuat dalam Tabloid Injili Edisi Khusus Youth- Fronline News, Juli 2015, Kiblat.net mendapati di rubrik Pendidikan Injili, ada tulisan mengenai kunjungan khusus perwakilan GIdI ke ibukota untuk menemui Ahok.

Tidak dijelaskan kapan pertemuan itu terjadi, hanya disebutkan bahwa pertemuan bertajuk “Kenal Siapa Gereja Pribumi Papua” itu berlangsung di ruang VIP, Kantor Gubernur, Jakarta Pusat.

Tim BPP GIdI terdiri dari 12 orang dipimpin langsung oleh Presiden GIdI, Pdt. Dorman Wandikbo. Sementara itu, Ahok didampingi para asisten, staf khusus dan awak media.

Dalam Tabloid Injili itu diceritakan bahwa di mata gereja GIdI, Ahok adalah sosok yan patriotik, tanpa kompromi dan berani karena benar. Bagi gereja GIdI, nilai dari segi kepemimpinannya saat ini sudah sangat representatif dari nilai-nilai keimanan yang dipercayai umat Kristiani.

Pada kesempatan itu, Pdt Dorman menceritakan latar belakang lahirnya gereja GIdI di masa lalu, perkembangan GIdI saat ini, penginjilan dari Tanah Papua sampai ke seluruh Nusantara termasuk ke Jakarta Pusat hingga ke luar negeri.

Penjelasaan singkat perkembangan GIdI itu ditanggapi serius dan kagum oleh Ahok. “O.. ya, gereja GIdI gereja injili bener ya!” sambil mengangguk-anggukan kepala, mengamininya.

“Kok orang Jakarta melihat Papua dengan mata bisnis, tapi GIdi lihat Jakarta dengan mata rohani,” pungkas Ahok.

Menteri Tedjo : Tolikara Sudah Aman, Jangan Dipanasi Lagi

0

RABU, 22 JULI 2015 | 14:58 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno menentang aksi sejumlah organisasi masyarakat Islam yang hendak jihad ke Papua. Menurut dia, aksi jihad itu nantinya malah akan memperkeruh suasana. “Di Tolikara saat ini sudah damai jangan dipanasi lagi,” ujarnya di gedung Kejaksaan Agung, Rabu, 22 Juli 2015.

Tedjo mengatakan pemeritnah sudah mendengat kabar adanya indikasi balas dendam yang akan dilakukan sekelompok umat Islam terkait bentrokan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua pada Jumat, 17 Juli 2015. Menurut dia, aksi balas dendam yang dilakukan dengan cara jihad itu adalah pikiran sempit dari segelintir pihak. “Itu hanya aksi solidaritas sempit, saya sudah bicarakan kepada tokoh agama untuk menghentikan dan meredam aksi tersebut,” kaya Tedjo.

Dia meminta seluruh tokoh organisasi masyarakat keagamaan untuk melarang anggotanya berangkat ke Papua untuk tujuan jihad. Dia mengatakan, kedatangan mereka dikhawatirkan justru akan memperkeruh suasana. “Kami harus berusaha mencegah untuk membuat situasi damai,” ujarnya.

Bentrokan terjadi pada Jumat pagi 17 Juli 2015, ketika puluhan orang yang diduga anggota jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) memprotes penyelenggaraan salat Id di lapangan Markas Komando Rayon Militer (Makoramil) 1702-11, Karubaga. Mereka berdalih telah memberitahukan agar kegiatan ibadah Lebaran tak dilaksanakan di daerah tersebut karena berbarengan dengan acara seminar dan kebaktian kebangunan rohani (KKR) pemuda GIDI.

Polisi yang mengamankan lokasi sempat mengeluarkan tembakan peringatan. Namun massa mengamuk hingga menyebabkan puluhan kios dan musala di sekitar lapangan habis terbakar. Seorang korban tewas dan belasan lainnya luka-luka terkena tembakan peluru.

REZA ADITYA

Gereja Injili teror Muslim Tolikara, ini sikap Majelis Mujahidin

0
Sikap Majelis Mujahidin atas aksi teror Gereja Injili di Indonesia (GIDI) terhadap Muslim Tolikara

Sikap Majelis Mujahidin atas aksi teror Gereja Injili di Indonesia (GIDI) terhadap Muslim Tolikara

JAKARTA (Arrahmah.com) – Saat umat Islam sedang melaksanakan shalat Idul Fitri 1436 H di lapangan Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua pada Jumat (17/7/2015), ratusan teroris menyerang dengan melempari kaum muslimin dengan panah dan batu. Tidak cukup sampai di situ, pengikut Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) ini juga membakar Masjid Baitul Muttaqin dan puluhan kios milik umat Islam.

Salah satu elemen umat Islam, Majelis Mujahidin, menuntut pemerintah untuk menangkap dan menghukum para pelaku serta para pendeta GIDI yang memprovokasi masyarakat melakukan penyerangan terhadap jamaah Shalat Idul Fitri di Tolikara Papua.

Berikut ini selengkapnya sikap Majelis Mujahidin yang kami kutip dari situs resminya.

Sikap Majelis Mujahidin Terhadap
Teror Gereja Injili di Tolikara Papua

Mengingat:

  1. Firman Allah Subhanahu wa ta’ala yang artinya :
    “Wahai orang-orang beriman, Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kalian karena agama kalian. Mereka juga tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”.
    “Akan tetapi Allah melarang kalian berteman dengan orang-orang yang memerangi kalian karena agama kalian. Juga dengan orang-orang yang mengusir kalian dari kampung-kampung kalian, dan orang-orang yang membantu orang yang mengusir kalian. Siapa saja menjadikan orang-orang kafir yang memusuhi kalian sebagai teman, mereka itu termasuk orang yang zalim.” (Qs. Al-Mumtahanah [60]:8-9)
  1. Negara Kesatuan RI adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Pasal 29 ayat 1 UUD NRI 1945, maka tidak dibenarkan membuat aturan yang bertentangan dengan agama, tidak diperkenankan melakukan penodaan terhadap agama, atau mengintimidasi umat beragama. Dan UUD NRI 1945 Pasal 29 ayat 2 tentang perlindungan beribadah oleh negara.

Menimbang:

  1. Surat edaran pelarangan Berjilbab dan Perayaan Idul Fitri pada tanggal 17 Juli 2015. Surat edaran Badan Pekerja Wilayah Toli (BPWT) Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) No: 90/SP/GIDI-WT/VII/2015 itu tertanggal 11 Juli 2015, ditujukan kepada umat Islam se-Tolikara dan ditembuskan ke Bupati, Ketua DPRD, Kapolres dan Kodim Tolikara tertanggal 11 Juli 2015, yang ditandatangani Ketua GIDI Tolikara Pdt. Nayus Wenea, S.Th dan Sekertaris Marthen Jingga, S.Th; MA.
  2. Pernyataan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tolikara, Yusak Mauri, bahwa sekte GIDI melarang mendirikan gereja yang tidak sealiran dengan mereka, dan harus bergabung dengan komunitas GIDI sebagaimana keputusan Sidang Sinode GIDI.
  3. Laporan Kerjasama antara Pimpinan Gereja GIDI dan Israel, 20 Nopember 2006, oleh Jason Sentuf yang menyimpulkan, bahwa untuk memperoleh saling pengakuan timbal-balik perlu memiliki tiga hal, yaitu:
  • Memiliki Visi Tuhan, tentang Tubuh Mesianik (Tubuh Kristus) sama seperti yang diterima kelompok Yahudi Mesianik di Israel.
  • Bersekutu dan beribadah bersama mereka pada hari-hari Raya Besar Yahudi, mengadakan seminar-seminar tentang Tubuh Kristus. Atau mengundang mereka beribadah bersama kita, atau hadir sebagai pembicara dalam acara rohani yang diselenggarakan di Indonesia. Inilah yang disebut urat-urat dan sendi-sendi yang saling menyambung oleh Roh Elohim membentuk Satu Manusia Baru –Yakni Tubuh Kristus secara Am (Yehez 37; Ef esus 2:14-16)
  • Memberi korban Persembahan kepada Israel sebagai Satu Bangsa Pilihan dengan membawa korban-korban persembahan untuk memberkati Israel

Memperhatikan:

  1. Upaya sekte GIDI menghasut penduduk Papua melakukan tindakan SARA untuk mengangkat isu Papua Merdeka di dunia Internasional. Sebagai sekte yang berafiliasi ke misi Israel Raya, sampai saat ini masih tergabung dalam Anggota Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili di Indonesia (PGGLLI) yang terdaftar sebagai Gereja: Surat Depag RI No. E/Ket/385/1745/76. Terdaftar Ulang: No. F/Kep/43/642/89 Akte : No. 15 Tanggal 06 1989. Keberadaan GIDI dapat mengancam stabilitas NKRI.
  2. GIDI Menjadi pintu masuk intervensi Israel melalui pintu Papua sebagaimana tercantum pada memo kesepakatan kerjasama mereka dengan gereja Kristen Jerussalem Israel KEHILAT HA’SEH AL HAR ZION (KHAHZ) pada tanggal 20 Nopember 2006, dan catatan misi perjalanan mereka ke Jerussalem pada 16-23 Nopember 2006 oleh Jason Sentuf.
  3. Ketidak pastian perlindungan hukum terhadap umat Islam paska penyerangan gerombolan GIDI terhadap jamaah Shalat Idul Fitri, 17 Juli 2015.

Memutuskan:

  1. Menuntut pemerintah untuk menangkap dan menghukum para pelaku serta para pendeta GIDI yang memprovokasi masyarakat melakukan penyerangan terhadap jamaah Shalat Idul Fitri di Tolikara Papua.
  2. Menuntut Kemenag RI agar membubarkan GIDI dan mencabut surat keputusan/pendaftaran GIDI, karena terbukti memprovokasi dan memicu tindakan kekerasan yang biadab.
  3. Menuntut TNI-Polri melakukan penelitian terhadap sekte GIDI yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia yang ditengarai sebagai proxy force (agen antara) Israel sebagaimana dinyatakan di dalam dokumen yang mereka miliki.
  4. Menuntut pemerintah pusat, pemprov Papua dan pemda Tolikara segera melakukan renovasi, rehabilitasi dan rekontruksi kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat yang menjadi korban kerusuhan.
  5. Menyeru seluruh elemen, organisasi Islam, MUI dan tokoh-tokoh Islam untuk mengefektifkan dakwah dan solidaritas jihad guna membantu Saudara Muslim yang tertindas di tanah Papua, khususnya di Kabupaten Tolikara.

Yogyakarta, 6 Syawal 1436 H/ 22 Juli 2015

Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

Irfan S. Awwas
Ketua

M. Shabbarin Syakur
Sekretaris

Menyetujui :

Al-Ustadz Muhammad Thalib
Amir Majelis Mujahidin

Tembusan-tembusan:

  1. Presiden
  2. Panglima TNI
  3. Kapolri
  4. DPR RI
  5. Menteri Dalam Negeri
  6. Menhankam
  7. Mahkamah Agung
  8. Pimpinan pusat Partai-partai politik
  9. MUI
  10. Pimpinan pusat Ormas
  11. Media massa

(azmuttaqin/arrahmah.com)

TOPIK: , , , ,

– See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/07/22/gereja-injili-teror-muslim-tolikara-ini-sikap-majelis-mujahidin.html#sthash.crfeBESA.dpuf

GIDI dan Masa Depan Gereja di Tanah Papua

0

GIDI atau Gereja Injili di Indonesia dan Masa Depan Gereja-Gereja Di Tanah Papua saya tulis berdasarkan perkembangan yang sedang terjadi di Tanah Papua, terkait interaksi dan perubahan sosial dan budaya yang telah dan sedang terjadi di antara orang Papua dan dengan oang non-Papua, di antara orang Kristen dan dengan orang-orang non-Kristen.

 

Lebih dekat dengan GIDI di Papua

0

Herawati, Senin,  10 Desember 2012  −  21:21 WIB

Pdt Piliyus Biniluk selaku Ketua Sinode GIDI Jilid 2 saat berkotbah. (herawati/koransindo)

Pdt Piliyus Biniluk selaku Ketua Sinode GIDI Jilid 2 saat berkotbah. (herawati/koransindo)

Ajaran GIDI adalah salah satu ajaran umat kristiani di Indonesia yang berpusat di Papua. Uniknya GIDI membabtis umatnya dengan cara menenggelamkan ke dalam air (dalam bahasa yunani Babtiso yang artinya menyelam).

Karena menurut aliran GIDI sebagai tanda mati bersama Kristus dan bangkit secara Kristus. Tak hanya itu, umat yang akan dibaptis juga harus berumur 10 tahun keatas.

Selain pembaptisan, jika seseorang berencana menikah diwajibkan membuat pengakuan dosa bagi orang yang terlanjur sudah melakukan hubungan badan sebelum menikah.

Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) sudah 49 tahun berdiri dan pertama kali dibentuk di Tolikara kabupaten Jayawijaya, namun berpusat di Kota Sentani kabupaten Jayapura. Saat ini, ada 966 jemaat yang beredar di seluruh Indonesia. Selain di Indonesia, ternyata GIDI juga terdapat di Australia, PNG, dan Yerusalem.

Mengenai perjalanan GIDI di Papua sendiri bermula ketika 49 tahun lalu seorang misionaris gereja kema injil (gereja crition mission alliance) membawa firman ALLAH ke Tolikara dan mengenalkan masyarakat disana dengan ajaran GIDI.

Masyarakat Tolikara pun menyambut baik dan memutuskan membuat gereja sendiri. Sebelumnya tiga badan misionaris telah membangun pos-pos keagamaan di pegunungan Papua.

Sehingga berembuklah kepala-kepala suku atau yang disebut ondoafi dan ondofolo untuk membangun gereja pertama Papua bagian pegunungan.

Pendeta Piliyus Biniluk selaku Ketua Sinode GIDI Jilid 2 mengutarakan bahwa Gereja GIDI ini pertama kali di bangun di Tolikara namun dipusatkan di Kota Sentani,

“Gereja GIDI pertama kali lahir di Tolikara dan pusatnya di Tolikara namun cabangnya sangat banyak ada di Grogol, Bali dan lain-lain, bahkan di Australia, PNG, dan Yerusalem juga ada,” ungkapnya kepada SINDO di Papua, Senin (10/12/2012).

Sedangkan untuk Natal tahun ini, tema yang diusung oleh GIDI menyambut Natal tahun ini yaitu “Oh Tuhan, Pulihkanlah Negeri Kami”. Tema tersebut diambil dari kitab 2 Tawarik pasal 7 ayat 14.

Dalam kitab tersebut, yang dimaksud pemulihan adalah setiap pribadi dari pria dan wanita, dan Negeri yang dimaksud yaitu hati setiap manusia karena itulah sumber dari segala-galanya.

Kenapa GIDI mengambil tema tersebut, Pendeta Piliyus mengungkapkan, karena segala yang diperbuat berasal dari hati.

“Sehingga kami berdoa supaya hati kita dipulihkan oleh Tuhan,” tegasnya.

Untuk pelaksanaan Natal sendiri, apa yang dilakukan umat GIDI sama seperti umat Kristiani lainnya, yakni melantunkan musik-musik gereja, KKP, membuat pondok natal, dan jemaat membuat natal masing-masing.

Setiap umat juga melakukan tukaran kado, lomba cerdas cermat Alkitab, dan melakukan Malam Kudus. Menariknya, tiap menyambut Natal ada jemaat yang diberangkatkan ke Israel.

“Tahun ini yang berangkat mewakili umat GIDI berjumlah 70 orang,” katanya.
(ysw)