gereja, papua, injili, gereja papua

Pemuda Klasis Goyage Seminarkan Hasil Konferensi ke-5 Pemuda GIDI Pusat

0

KARUBAGASUARAPAPUA.com— Badan Pengurus Pemuda Klasis Goyage seminarkan hasil konferensi ke-5 Pemuda GIDI kepada ketua-ketua pemuda gereja, ketua sekolah minggu serta hamba-hamba Tuhan, jemaat dan satu pos Pekabaran Injil (PI) di klasis Goyage, wilayah Toli, Papua.

Ev. Wendamur Wenda, Salah satu Pemateri  sekaligus Pengurus Pemuda Klasis Goyage kepada suarapapua.com mengatakan, materi yang ia sampaikan lebih menyoroti tentang penyelamatan umat Tuhan yang belum menerima kabar Baik. Karena itu merupakan tanggungjawab semua pemuda-pemudi untuk meneruskan sisa pelayanan orang tua.

“Orang tua saat itu melakukan pelayanan apa adanya, namun membawa injil kepada teman-teman kita, kuasa Tuhan benar-benar menyertai sehingga penginjilan dapat terjangkau dengan baik,” katanya  pada Senin (28/8/2017) di Karubaga, Tolikara, Papua.

Ia menjelaskan, dirinya bersama beberapa teman utusan klasis Goyage yang hadir di  Konferensi Pemuda GIDI di Sentani, selaku pengurus Pemuda Klasis, membagikan hal-hal yang dibahas dalam konfrensi itu kepada teman-teman pimpinan pengurus  empat Pemuda Dewan serta pengurus pemuda 13 Gereja serta 1 Pos PI melalui seminar sehari.

Selain seminar sehari, kata Wenda, pihaknya bersama teman-teman pengurus Pemuda Dewan serta pemuda Jemaat telah meneyepakati untuksampaian materi pada Ibadah gabungan Klasis.

“Itu akan dilakukan dalam dua kelompok, diantaranya Dewan Kualipura dengan Dewan Kilugi dan Dewan Geya dengan Dewan Yaguli. Pimpinan Klasis juga baru baptis pemuda-pemudi sehingga akan bawa mereka dalam ibadah gabungan, agar kegiatan kepemudaan selalu terisi terus dan tidak berikan waktu sedikit pun kepada Iblis,” ujarnya.

Ia berharap para peserta yang hadir dapat memperlajari, memahami dan mencerna semua materi yang disampaikan pemateri dalam seminar.

“Kami berharap supaya para peserta dapat mempelajari dengan baik semua materi yang kami sampaikan agar mereka sampaikan juga kepada semua Jemaat Tuhan. Sehingga dapat mewujudkan pemuda GIDI yang berkarakter Kristus dan menjadi saluran terang injil dalam diri kita, keluarga, serta sesama kita semua,” harapnya.

Seminar yang digelar tersebut bertujuan untuk sosialisasikan hasil konferensi ke-5 Pemuda Gereja GIDI Pusat yang sudah digelar pada 19-22 Juli lalu di Sentani, Jayapura, Papua.

Ralat: Berita ini judul sebelumnya adalah Pemuda Klasis Goyage Gelar Seminarkan Hasil Konferensi ke-5 Pemuda GIDI Pusat. Kami ralat judul menjadi: Pemuda Klasis Goyage Seminarkan Hasil Konferensi ke-5 Pemuda GIDI Pusat. Redaksi meminta maaf kepada pemirsa Suara Papua untuk ralat judul berita ini.

Pewarta: Nay Yigibalom

Editor: Arnold Belau

Sumber: http://suarapapua.com 

Jayapura tuan rumah Konferensi Pemuda GIDI se-Indonesia

0

Jayapura, Jubi Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura, Papua akan menjadi tuan rumah konferensi V pemuda GIDI se-Indonesia tanggal 16-23 Juli 2017.

Ketua panitia konferensi, Yunus Wonda mengatakan, kegiatan akan dilaksanakan di Stakin Sentani dan dihadiri perwakilan gereja GIDI dari berbagai wilayah di Indonesia, khususnya Papua.

“Saya imbau kepada semua pemuda GIDI di Indonesia khususnya di wilayah Papua, mendaftarkan diri kepada panitia dan hadiri dalam konferensi yang akan dibuka Gubernur Papua, Lukas Enembe,” kata Wonda, Senin (3/7/2017).

Ia mengingatkan gereja GIDI di seluruh Papua dan Papua Barat serta wilayah lain di Indonesia di antaranya Yogyakarta, Aceh dan Kalimantan agar mengambil bagian dalam konferensi dan mengikuti semua persyaratan yang ditentukan panitia.

“Kantor sekretariat akan dibuka di Sentani. Ini agenda rutin. Ini lanjutan dari konferensi IV di Tolikara, 2015 lalu. Tema konferensi V ini, menyatukan pelayanan GIDI dengan target penginjilan di seluruh Papua dan Indonesia,” ujarnya.

Salah satu kader gereja GIDI di Papua, Orwan Tolli Wone mengatakan, dalam konferensi biasanya dibahas berbagai hal, terutama terkait penginjilan.

“Ya ini memang agenda rutin GIDI. Biasanya konferensi akan menghadirkan ide-ide baru dalam hal penginjian,” kata Orwan.

Menurutnya, konferensi di Sentani, Kabupaten Jayapura mendatang, akan diikuti umat GIDI dari berbagai daerah di Indonesia.

“Di mana wilayah ada gereja GIDI, pasti akan mengutus umatnya untuk hadir, karena ini konferensi se-Indonesia,” ujarnya. (*)

Gereja diresmikan, Jemaat Eklesia Basal, Korupun pesta rakyat

0
Tampak depan bangunan Gereja GIDI Jemaat Eklesia Basal di Korupun. – Jubi/Dok. Yosua

Tampak depan bangunan Gereja GIDI Jemaat Eklesia Basal di Korupun. – Jubi/Dok. Yosua

Yahukimo, Jubi Masyarakat distrik Korupun, khususnya Jemaat Eklesia Basal, Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), di Kabupaten Yahukimo, kini bergembira setelah menantikan selama hampir empat tahun untuk berdirinya sebuah gereja permanen di pedalaman tersebut.

Ketua panitia pembangunan dan peresmian gereja GIDI Jemaat Eklesia Basal, Yosia J. Busup, S.Sos, pada Jumat (30/6/2017), mengatakan wujud kegembiraan jemaat dan hampir seluruh masyarakat di Korupun adalah dengan melangsungkan pesta rakyat sebagai bentuk syukuran selama dua hari berturut-turut—mulai 18-19 Juni lalu.

“Kami bersyukur dan rayakan dengan pesta rakyat selama dua hari,” kata Yosia, “Hari pertama, bakar batu babi 150 ekor, hari kedua 50 ekor,” jelasnya kepada Jubi.

Ratusan ekor babi tersebut merupakan sumbangan sukarela dari beberapa pihak termasuk masyarakat. Babi bernilai tinggi bagi sebagian besar masyarakat pedalaman Papua dan acapkali digunakan sebagai persembahan dalam pesta.

Yosua menjelaskan, bangunan gereja yang terbuat dari setengah beton dan kayu tersebut berukuran 9×12 meter persegi. Meski kepanitiaannya dibentuk pada 2011, namun pegerjaannya baru dapat dilakukan per 2013, oleh tenaga yang terbatas.

“Tukangnya hanya satu orang dan dibantu enam orang dari anggota jemaat. Hanya mereka yang kerja,” ujarnya.

Pembangunan gereja yang menghabiskan dana lebih dari Rp1,1 miliar itu, awalnya dilakukan dengan peralatan sederhana seperti tas noken sebagai pengganti gerobak untuk membawa batu dari kali, hingga berdatangan peralatan dari kota.

“Selain yang kerja sedikit, pekerjaan terkadang stop karena sakit, atau cuaca juga. Lalu peralatan dan transportasi yang sulit dari kota ke distrik. Hal seperti itu yang buat jadi lama,” jelas Yosua.

Untuk diketahui, distrik Korupun berada di pedalaman kabupaten Yahukimo dan hanya bisa ditempuh dengan pesawat kecil, sejenis Pilatus Advent, dari kota Dekai dan Sentani.

“(Gereja) yang lama hanya dari kayu dan kecil, kadang jemaat lain duduk di luar. Tapi sakarang jemaat senang karena gereja permanen dan lebih luas jadi semua bisa masuk di gereja,” ucap Yosua.

Yosua, mewakili seluruh panitia dan jemaat, menyampaikan, “Terima kasih banyak kepada seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan gereja ini, diantaranya Bupati Yahukimo, Ketua DPRD Yahukimo, Ketua PKK Yahukimo, Tony Uk, SH (anggota DPRD Dapil 4), Kepala Distrik Korupun, serta seluruh masyarakat.”

Toni Uk, Anggota DPRD dari Dapil 4, turut menyumbang sejumlah bahan pokok dan dua ekor babi. Wakil rakyat yang juga kader GIDI itu memaknai dalam sumbangan tersebut.

“Bantuan ini saya berikan sebagai persembahan dan perpuluhan, jangan dilihat nilainya,” ucapnya. “Saya sebagai anak gereja, kita berangkat dari gereja dan orang tua saya terima Injil di daerah ini (Korupun). Jadi, kita wajib mendukung pembangunan gereja dan jemaat, menjadi dewasa dalam keimanan,” ucap anggota komisi A tersebut.

Terpisah, Bupati Abock Busup, MA, menyatakan, sesuai visi dan misi, pemerintahannya akan selalu mendukung program-program keagamaan di wilayahnya, termasuk kegiatan gerejawi.

“Kepemimpinan kami mendukung program jemaat karena melalui itu jemaat bisa datang beribadah dan melayani Tuhan. Kami juga memimpin penuh pembangunan Gereja, ini susuai dengan visi dan misi kami,” kata Bupati.

Sementara itu, Ketua Wilayah GIDI Yahukimo Pdt. Menas D. Mirin, S.Th mengapresiasi seluruh jemaat yang turut ambil bagian dalam pembangunan tersebut, dan berpesan, “Terlebih penting adalah Jemaat bisa percaya Yesus dan menerima Dia secara pribadi lalu membangun bait Allah…karena membangun tubuh Kristus yang lebih penting,” katanya. (*)

Bupati Mathius Buka Konferensi GIDI Klasis Cycloop Sentani ke-X

0
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.Th, ketika menyampaikan sambutan dalam kegiatan Konferensi GIDI Klasis Cycloop Sentani ke-X tahun 2017, di Balai Trans Sentani, Rabu (21/6).

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.Th, ketika menyampaikan sambutan dalam kegiatan Konferensi GIDI Klasis Cycloop Sentani ke-X tahun 2017, di Balai Trans Sentani, Rabu (21/6).

PASIFICPos.com – SENTANI – Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, membuka Konferensi X tahun 2017 Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Klasis Cycloop Sentani, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (21/6) kemarin siang, di Balai Transmigrasi, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura. Pembukaan kegiatan yang menjadi agenda tiga tahunan ini ditandai dengan pemukulan Tifa serta penyematan tanda peserta konferensi.

Usai pembukaan, Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada GIDI Klasis Cycloop Sentani yang menggelar konferensi X tahun 2017 yang direncanakan berlangsung selama lima hari.

Kita memberikan apresiasi untuk (GIDI) Klasis Cycloop yang hari ini (kemarin) bisa menyelenggarakan konferensi X. Ya, menurut saya ini penting untuk bagaimana perjalanan gereja sampai saat ini dan juga bagaimana rencana kedepan, ujarnya ketika dikonfirmasi wartawan usai membuka kegiatan Konferensi X Tahun 2017 GIDI Klasis Cycloop Sentani, Rabu (21/6) kemarin.

Mereka mengevaluasi dan juga mereka melihat, tadi (kemarin) kita sudah  memberikan beberapa hal atau arahan untuk bagaimana gereja harus menggumuli tantangan kita yang cukup serius. Karena itu, momen ini penting untuk merumuskan hal-hal tersebut, sambung dia.

Diharapkan, konferensi ini menghasilkan sesuatu yang lebih baik untuk diterapkan dalam kegiatan dan memberikan motivasi kepada seluruh jemaat gereja. Selain itu, kata Bupati Mathius, pemerintah tidak bisa jalan sendiri, karena harus merangkul berbagai pihak baik gereja dan agama-agama yang lain. Tapi, juga pihak adat supaya bersama-sama membangun daerah ini.

Melalui kegiatan konferensi ini, Bupati Mathius juga mengajak seluruh jemaat GIDI untuk mendukung pembangunan di Kabupaten Jayapura. Menurutnya, saat ini perbedaan yang ada di Bumi Khenambay Umbay (sebutan Kabupaten Jayapura) dengan keberagaman suku, budaya, adat dan agama harus dapat dimanfaatkan sebagai sebuah pondasi dalam membangun daerah.

Ia menilai, sejauh ini dengan perbedaan yang terjadi tidak menimbulkan konflik yang dapat mengganggu kestabilan pembangunan dan kondisi ini harus dipertahankan terus demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Kita bersyukur kabupaten ini terus kita jaga aman dan terkendali, juga itu karena doa-doa mereka yang terlibat luar biasa dalam proses pembangunan di Indonesia dan kontribusi dari gereja-gereja itu sangat besar sekali. Oleh karena itu, pemerintah wajib untuk membangun kemitraan dan hadir untuk bersama-sama guna memberikan penguatan-penguatan terhadap satu sama lain, tegas Mathius.

Hanya itu yang kita bisa lakukan dalam rangka kemitraan-kemitraan yang kita bangun ini. Kita berdoa mudah-mudahan konferensi ini bisa berlangsung baik dan menghasilkan keputusan-keputusan yang penting untuk masa depan gereja, namun juga untuk masa depan bangsa maupun daerah ini, tukasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Konferensi, Ev. Nelius Suhuniap, S.Th, mengatakan tujuan konferensi Klasis Cycloop Sentani ke-X ini adalah memiliki tiga tujuan diantaranya, pertama merencanakan dan sekaligus menetapkan hasil-hasil keputusan dalam melaksanakan keputusan rapat konferensi tertinggi di tingkat klasis, mengesahkan hasil-hasil keputusan menjadi program kerja dari badan pengurus yang baru (terpilih) untuk periode 2017-2020.

Kedua, lanjut Ev. Nelius yang juga Gembala Jemaat GIDI Bukit Tabor ini menyampaikan, berhubung badan pengurus GIDI Klasis Cycloop Sentani akan berakhir pada tahun 2017 ini, sehingga pihaknya akan melakukan pemilihan untuk badan pengurus yang baru periode 2017-2020 berdasarkan nama-nama calon yang sudah masuk pada pelaksanaan konferensi ini.

Ketiga, mengesahkan dan sekaligus melantik badan pengurus yang baru periode 2017-2020 pada tanggal 25 Juni 2017 mendatang.
Kita akan lantik badan pengurus yang baru pada tanggl 25 Juni nanti. Kegiatan konferensi yang merupakan agenda tiga tahunan ini akan berlangsung selama lima hari mulai dari tanggal 21-25 Juni 2017 mendatang, tandasnya.

Naman-nama calon yang sudah masuk untuk dipilih sebagai badan pengurus yang baru periode 2017-2020, yakni calon ketua (tunggal) adalah Pdt. Reinhard Ohee, S.Th, sedangkan untuk calon wakil ketua ada tiga nama yaitu Ev. Nelius Suhuniap, S.Th, Pdt. Tiban Wonda dan Pdt. Roberth Imbiri, untuk calon sekretaris ada satu nama dan untuk calon bendahara ada tiga nama yang sudah masuk untuk dipilih sebagai badan pengurus baru periode 2017-2020.

Besok, Aksi Damai Gereja-Gereja Papua Bebaskan Ahok, Selamatkan Indonesia dan Pancasila

0
Selebaran Aksi Damai Selamatkan Indonesia dan Selamatkan Pancasila/Roberth

Selebaran Aksi Damai Selamatkan Indonesia dan Selamatkan Pancasila/Roberth

JAYAPURA,-WartaPlus – Perseketuan Gereja-Gereja Papua (PGGP) dan Gereja-Gereja se Kota Jayapura (PGGS)  akan lakukan aksi damai, Senin (15/5) pagi. Ini terungkap dari rilis yang diterima wartaplus.com, Minggu (14/5) pagi. Rilis yang ditanda tangani Ketua PGGP  yaitu  Uskup Jayapura  Mgr Leo Laba Ladjar OFM dan Sekertaris Hardus Desa MA.

Aksi damai ini  menyikapi situasi nasional yang berkembang belakangan ini terkait dengan pemberitaan masalah tuduhan dan putusan pengadilan penistaan agama oleh saudara  Basuki Tjahja Purnama (Ahok), dan terkait dengan itu juga dengan gencarnya pengaruh gerakan radikalisme yang sangat mengganggu rasa aman dan rasa  tenteram, yang secara khusus dimainkan oleh HTI dan FPI.

“Maka pimpinan Persekutuan Gereja-Gereja Papua dan  Gereja-Gerela se Kota Jayapura menampung aspirasi masyarakat, umat kristen dan sejumlah pimpinan gereja setingkat sinode dengan mengadakan rapat koordinasi untuk menampung semua aspirasi yang berkembang,”kata Uskup Jayapura  Mgr Leo Laba Ladjar OFM dalam rilis tersebut.

Diungkapkan, hasil rapat koordinasi dan sikap pimpinan PGGP dan PGGS  itulah yang hendak kami sampaikan dan meminta partisipasi pimpinan gereja-gereja untuk menggelar ‘Aksi Damai Selamatkan Indonesia dan Selamatkan Pancasila’, Senin (15/5) pagi. Kegiatan tersebut  dimulai pukul 10.00 WIT, dengan pawai dari Taman Imbi Jayapura menuju DPRP menemui pimpinan DPRP dan selanjutnya menuju Kantor Gubernur untuk  menemui Gubernur Provinsi Papua.

Terungkap juga  dalam rilis tersebut Ketua Umum  PGGP  Mgr Dr Leo Laba Ladjar OFM akan membacakan surat pernyataan sikap untuk membubarkan HT, FPI dan ormas-ormas penganut paham radikalisme dari bumi Indonesia, permintaan membebaskan Ahok karena terbukti tidak menistakan agama. Pawai ini juga akan diisi dengan orasi-orasi oleh beberapa pimpinan gereja, doa doa syukur  serta mengumandangkan lagu-lagu nasional. [Roberth]

Vonis Ahok Dan Solidaritas Kemanusiaan Di Papua

0

oleh: Daniel Randongkir

Sejak vonis hukum terhadap Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dalam kasus penistaan agama, muncul berbagai aksi solidaritas di kalangan masyarakat sipil Indonesia. Aksi-aksi solidaritas ini terlihat menyebar secara massif dan merata hampir di seluruh wilayah Indonesia. Khusus di Papua aksi solidaritas terhadap Ahok, dilakukan masyarakat di Kota Jayapura, Sentani, Manokwari, Sorong, Biak dan Wamena, melalui “Aksi 1000 lilin”. Aksi-aksi ini kemudian diunggah ke media sosial dan mendapat beragam tanggapan. Opini yang berkembang di media sosial terhadap aksi solidaritas untuk Ahok di Papua, terbagi dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama lebih menunjukan solidaritas dan dukungan terhadap Ahok sebagai korban ‘ketidakadilan’ hukum di Indonesia, sementara kelompok kedua lebih melihat pada ketidakpedulian publik terhadap kasus-kasus kemanusiaan serupa yang terjadi selama ini di Papua. Merespon pro-kontra pendapat terhadap aksi solidaritas bagi Ahok di Papua, perlu kiranya ditelaah dari aspek Politik, Sosial dan Budaya.

Selama lebih dari lima dekade, berbagai macam kasus kekerasan yang menyebabkan tragedi kemanusiaan di Papua, seolah-olah terisolasi dari pandangan publik Indonesia. Sikap pemerintah Indonesia yang tidak serius dalam menyelesaikan kasus-kasus kekerasan di Papua, menciptakan opini massa di Papua sebagai sebuah bentuk “penjajahan” terhadap penduduk asli Papua. Aksi-aksi protes yang dilakukan untuk mencari keadilan hukum terhadap para korban kekerasan di Papua, justru dijawab secara represif oleh aparat keamanan dan kepolisian Indonesia. Situasi ini berbanding terbalik dengan kasus Ahok yang mendapat tanggapan publik secara meluas di Indonesia, termasuk di Papua.

Publikasi kasus Ahok oleh media massa telah menempatkannya sebagai figur politik paling populer dalam beberapa bulan belakangan ini di Indonesia, sementara isu-isu kerkerasan di Papua mendapat publikasi yang lebih luas oleh media internasional. Fenomena publikasi kasus Ahok oleh media Indonesia telah menciptakan opini bahwa kasus ketidakadilan hukum di Indonesia hanya diderita oleh seorang Ahok, sementara kasus-kasus lain menjadi luput dari pemberitaan media massa. Pemberitaan media massa Indonesia yang tidak berimbang, berimbas pada tekanan internasional terhadap perbaikan penerapan hukum di Indonesia. Hukum dipandang lebih berpihak kepada kelompok mayoritas, dan sebaliknya menindas kaum minoritas di Indonesia.

Philip Karma, Tokoh Papua Merdeka, Foto CNN

Philip Karma, Tokoh Papua Merdeka, Foto CNN

Orang Papua memiliki pandangan yang lebih spesifik, sehingga muncul pertanyaan apa bedanya ketidakadilan hukum yang menimpa figur politik seperti Filep Karma dengan Ahok? Keduanya terpenjara karena memperjuangkan kepentingan rakyat jelata. Pandangan politik kaum mayoritas telah menuding Ahok sebagai “penista agama”, demikian pula Filep Karma dituding sebagai “penista ideologi negara”. Lalu mengapa sampai reaksi solidaritas terhadap Ahok bisa lebih populer dibandingkan Filep Karma? Jawaban terhadap pertanyaan ini memberikan kesimpulan bahwa kehadiran negara hanya sekedar memenuhi kebutuhan kaum mayoritas di Indonesia.

Stigma “penistaan agama” dan “penistaan ideologi negara” telah menjadi alat untuk membungkam gerakan kaum minoritas dalam mencari keadilan di Indonesia. Beruntung orang Papua memiliki cara lain dengan membangun kampanye internasional guna menggalang dukungan solidaritas. Reaksi internasional terhadap kasus Ahok juga datang dari organisasi internasional seperti Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-bangsa dan juga Amnesti Internasional, dukungan serupa juga diberikan kepada Filep Karma. Terdapat perbedaan signifikan antara dukungan yang diterima oleh Ahok dengan Filep Karma. Dalam skala nasional, dukungan solidaritas di Indonesia secara kuantitatif lebih berpihak kepada Ahok dibandingkan Filep Karma. Kaum moderat, nasionalis dan sekuler lebih menunjukan solidaritasnya terhadap Ahok, sementara dukungan terhadap Filep Karma hanya datang dari kaum moderat. Sementara dalam skala lokal, dukungan bagi Ahok dan Filep Karma terlihat lebih berimbang.

Beragam dukungan terhadap Ahok dan Filep Karma dapat disebabkan oleh berbagai alasan, seperti agama, pandangan politik, ideologi, maupun budaya. Sekalipun sama-sama memperjuangkan perubahan politik dan pelayanan publik yang lebih baik, Ahok tentunya lebih populer di Indonesia karena memperjuangkan perbaikan demokrasi di Indonesia. Sebaliknya Filep Karma dianggap sebagai “musuh negara” karena memperjuangkan perbaikan demokrasi di luar Indonesia dengan tujuan mendirikan “Negara Papua Barat”. Walaupun Ahok dan Filep Karma sama-sama memiliki komitmen untuk membangun demokrasi, namun mereka memiliki cara yang berbeda untuk mewujudkannya, disinilah faktor yang mempengaruhi tingkat dan jumlah dukungan solidaritas terhadap keduanya.

Satu hal yang tidak boleh diabaikan dalam melihat dinamika sosial-politik di Indonesia adalah orientasi ideologi yang berakar jauh dalam kebudayaan lokal. Gerakan-gerakan perubahan sosial-politik masyarakat sipil sebenarnya telah dilakukan sejak ribuan tahun sebelumnya. Dalam konteks budaya gerakan seperti ini sering disebut Gerakan Cargo Cult atau Gerakan Mesianis. Pada Masyarakat Jawa, gerakan seperti ini dikenal dengan nama Gerakan Ratu Adil, sedangkan di Papua memiliki beragam nama lokal seperti Koreri, Hai, Nabelan-Kabelan dan sebagainya. Pada hakekatnya gerakan-gerakan seperti ini berorientasi pada tatanan sosial-politik masyarakat yang lebih damai, harmonis dan setara, dengan menempatkan tokoh pemimpin gerakan sebagai Tokoh Mitologi yang dipercaya sebagai titisan Dewa atau Tuhan. Dalam konteks demikian, baik Ahok maupun Filep Karma dipercaya oleh para pendukungnya sebagai tokoh yang akan membawa masyarakat kepada tujuan politik mereka. Dengan demikian maka pemenjaraan terhadap Ahok ataupun Filep Karma tidak akan menghentikan gerakan perubahan di tengah masyarakat, karena ideologi mereka masih tetap hidup dalam pemikiran para pendukungnya yang berada di luar penjara.

Menanggapi dinamika aksi solidaritas kemanusiaan baik terhadap Ahok maupun korban-korban ketidakadilan hukum di Papua, perlu kiranya mendorong suatu gerakan bersama yang tidak menempatkan para korbannya dalam konteks yang berbeda. Perjuangan terhadap keadilan sesungguhnya tidak dibatasi oleh kedaulatan politik lokal, nasional dan regional. Gerakan perubahan ini harus ditempatkan dalam konteks global, sebagai upaya untuk mewujudkan tatanan masyarakat dunia yang lebih damai, harmonis dan setara.

Penulis adalah alumni Antropologi Universitas Cenderawasih

Sumber: http://www.sastrapapua.com/

Franklin Graham Serukan Pada Semua Umat Kristen Dunia Doakan Ahok

0
Pendeta dan Penginjil dari Billy Graham Evangelistic Association, Franklin Graham, menyerukan umat Kristen di seluruh dunia untuk bersatu dalam doa untuk gubernur DKI Jakarta yang saat ini nonaktif karena menjalani kampanye, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang saat ini menghadapi tuduhan penghinaan agama.
Menurut New York Times yang dikutip ulang Gospel Herald, pada hari Rabu (14/12) dengan mengutip dari fanpage facebook Franklin Graham, putra dari penginjil Billy Graham, menyerukan umat Kristen di seluruh dunia untuk berlomba-lomba memberi dukungan kepada Ahok.
“Kita perlu berdoa untuk gubernur Jakarta beragama Kristen, Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama, yang diadili karena apa yang disebut sebagai penghujatan, yang konyol,” kata  Graham.
“Dia adalah gubernur pertama non-Muslim dari ibu kota Indonesia. Berbagai tuduhan dialamatkan kepadanya karena dia adalah seorang Kristen,” kata dia.
“Ini adalah penganiayaan yang terjadi di seluruh dunia, mari kita berdoa untuk orang ini dan keluarganya,” kata dia.
Dalam Gospel Herald dijelaskan bahwa Basuki Tjahaja Purnama merupakan laki-laki asal etnis Tionghoa dan pemeluk Kristen pertama dalam 50 tahun menahkodai ibu kota Indonesia tersebut.
Ahok, menurut New York Times yang dikutip ulang Gospel Herald, dituduh melakukan pelanggaran undang-undang penistaan agama saat memberikan kata sambutan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, pada September 2016.
Ahok telah membantah tuduhan penistaan agama, dan mengatakan ucapannya tersebut ditujukan untuk politikus yang bersikap tidak benar dengan menggunakan ayat Alquran terhadap dirinya.
Jaksa penuntut mengatakan Ahok melakukan penghinaan terhadap Islam dengan menyalahgunakan ayat tersebut dalam rangka meningkatkan dukungan publik menjelang pemilihan gubernur, menurut BBC yang dikutip ulang Gospel Herald.
Penginjil berusia 64 tahun tersebut menambahkan bahwa The Billy Graham Evangelistic Association akan menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) “World Summit in Defense of Persecuted Christians” atau Pertemuan Dunia untuk Umat Kristen Teraniaya di Washington DC, pada 10-13 Mei 2017.
Pertemuan tersebut dihelat dalam rangka mengekspos masalah ini dan untuk membantu mendidik para politikus di Washington DC dan kepada publik di Amerika Serikat tentang penganiayaan yang terjadi terhadap Kristen di seluruh dunia. (gospelherald.com)

Sukseskan konferensi wilayah Bogo, Ketua DPRD Mamteng bantu Rp100 Juta

0
Ketua DPRD Kabupaten Mamberamo Tengah, Berius Kogoya, S.Th menyerahkan bantuan yang diterima Ketua Klasis GIDI Wilayah Bogo, Pdt. Gad Yikwa – Jubi/IST

Ketua DPRD Kabupaten Mamberamo Tengah, Berius Kogoya, S.Th menyerahkan bantuan yang diterima Ketua Klasis GIDI Wilayah Bogo, Pdt. Gad Yikwa – Jubi/IST

Kelila, JubiJanji Ketua DPRD Kabupaten Mamberamo Tengah (Mamteng), Berius Kogoya, S.Th untuk mendukung kegiatan Konferensi Gereja GIDI Wilayah Bogo akhirnya direalisasikan.

Dalam kunjungannya ke jemaat Kiyume, Klasis Kira Wilayah Bogo, Distrik Kelila Kabupaten Mamberamo Tengah, Minggu (23/4/2017), Ketua DPRD Berius Kogoya berkesempatan menyerahkan bantuan dana segar sebesar Rp100 juta yang diterima Ketua Klasis Wilayah Bogo Pdt. Gad Yikwa sebelum dilanjutkan kepada ketua panitia Hengki Yikwa.

Selain menyerahkan bantuan uang secara tunai, Ketua DPRD Berius Kogoya juga menyerahkan  5 unit mesin babat, parang dan 3 jeriken bensin untuk menunjang kerja panitia.

Berius mengatakan bantuan yang diberikan ini tidak lain untuk ikut membantu kerja panitia dalam menyiapkan kegiatan besar keagamaan seperti Konferensi Wilayah Bogo ini. “Ini merupakan berkat Tuhan sehingga kita kembalikan juga kepada Tuhan sebagai pemilik berkat itu,” ujarnya.

Berius meminta panitia untuk tidak melihat dari besar kecilnya sumbangan. Namun apa yang dilakukan itu sebagai bentuk kepedulian demi suksesnya konferensi ini. “Saya berharap bantuan ini bermanfaat untuk menunjang kerja kepanitian dalam menyukseskan Konferensi Wilayah Bogo,” ucapnya.

Berius yakin apa yang masih menjadi kekurangan dalam persiapan Konferensi Wilayah Bogo akan dilengkapi oleh Tuhan. “Ini pekerjaan Tuhan, sebagai orang percaya kita harus yakin itu,” katanya.

Berius yang juga kader Gereja Injili Di Indonesia ini mengajak seluruh kader GIDI yang ada di Mamberamo Tengah khususnya, maupun di Yalimo, Tolikara, Lani Jaya, Yahukimo, Jayawijaya untuk mendukung penuh dan mensukseskan Konferensi GIDI Klasis Bogo.

Berius mengatakan, sumbangan tidak harus dalam bentuk uang semata. Namun bisa juga dalam bentuk ide, gagasan, tenaga, maupun barang. “Mari berkat yang kita miliki, berapa pun itu, kita sumbang untuk kelacaran kegiatan konferensi,” ucapnya.

Ketua Panitia, Hengky Yikwa menyampaikan terima kasih kepada kepada Ketua DPRD yang sudah membantu panitia demi suksesnya pelaksanaan Konferensi Wilayah Bogo nantinya.

Hengky menegaskan, panitia akan bekerja dengan baik memanfaatkan anggaran yang ada ini sesuai dengan kebutuhan masing-masing seksi untuk kegiatan nantinya bisa berjalan dengan lancar.

Ia mengakui walau Konferensi Wilayah Bogo bergeser dari jadwalnya yakni tanggal 15 Mei ke 25 Mei karena ada pemilu ulang di Tolikara. Namun hal itu tidak mempengaruhi persiapan panitia.

“Soal persiapan, saat ini sudah 80 persen baik dalam menyiapkan ruang sidang, ruang makan, termasuk pembangunan rumah tamu yang saat ini sedang dikerjakan,” ujarnya. (*)

Patung Yesus Kristus tertinggi di dunia akan jadi destinasi wisata internasional di Papua

0
Tim survey Bukit Kayu Batu Jayapura Papua foto bersama sebelum melakukan survey udara - Jubi/Engelbert Wally

Tim survey Bukit Kayu Batu Jayapura Papua foto bersama sebelum melakukan survey udara – Jubi/Engelbert Wally

Sentani, Jubi – Rencana Pemerintah Provinsi Papua membangun Patung Yesus Kristus di Bukit Kayu Batu Kota Jayapura diawali dengan melakukan survei pada lokasi yang akan digunakan mendirikan patung tersebut.

Tim survei yang dipimpin langsung oleh Kepala dinas PU Provinsi Papua ini terdiri dari tim Teknis dan juga sejumlah pematung yang didatangkan langsung dari Jawa serta beberapa wartawan media cetak lokal dan nasional.

Dengan menggunakan pesawat terbang jenis Grand Caravan yang sudah dibooking sebelumnya, tim berangkat dari Bandara Udara Sentani pukul 15.30 WIT menuju Kota Jayapura untuk melihat dari udara lokasi yang akan digunakan. Selang satu jam kemudian tim kembali mendarat di Bandara Sentani.

Djuli Mambaya Kepala Dinas PU Provinsi Papua usai melakukan survei bersama timnya mengatakan bahwa patung Yesus Kristus yang akan  dibangun diatas perbukitan  dekat dengan Kampung Kayu Batu akan menghadap ke arah barat Kota Jayapura.

Dikatakan, patung yang akan dibangun ini merupakan patung tertinggi di dunia, dengan ketinggian patung mencapai 67 meter. Sementara bahan patung yang digunakan dari perunggu dan tembaga serta ada bagian-bagian khusus yang menggunakan emas murni.

“Dengan lahan seluas enam hektar yang sudah kita sepakati, patung ini akan berdiri setinggi 67 meter yang dibawah dari patung tersebut akan juga dibangun seperti museum yang didalamnya tercatat semua sejarah denominasi gereja yang ada di Papua. Setelah jadi, tentu akan menjadi destinasi wisata rohani internasional,” ujar Djuli Mambaya di Sentani, Sabtu (22/4/2017).

Dijelaskannya, proses pembangunan akan dimulai tahun ini dengan biaya yang berkisar 300-500 milyar rupiah. Sebagian urusan terkait pelepasan lahan sudah disepakati dengan pemilik hak ulayat.

“Progres pembangunan akan dimulai tahun ini, urusan hak ulayat sebagian sudah kami bicarakan dengan pemilik hak ulayat. Sementara pematung yang kami bawa untuk membangun patung ini adalah mereka yang benar-benar ahli dalam bidangnya yang berskala nasional dan internasional,” jelasnya.

Secara terpisah, Noor Ibrahim salah satu pematung yang terlibat dalam proses pembangunan patung Yesus Kristus ini mengaku sangat kagum dengan alam di Papua yang menurutnya sangat luar biasa.

“Sangat penting bagi masyarakat Papua secara umum dan khususnya warga kota Jayapura untuk memiliki satu ikon yang kelasnya tidak hanya nasional tetapi dunia,” ungkap pematung lulusan Institut Kesenian Jakarta ini. (*)

Makam Yesus Usai Dipugar

0
Die Grabeskirche in Jerusalem von außen und in leichter Draufsicht

Di situs Makam Kudus, Yesus Kristus disalibkan, wafat, dimakamkan dan bangkit kembali. Menurut bukti arkeologi, gereja pertama di situs itu diresmikan tahun 335. Setelah mengalami kehancuran pada abad ke-7, ke-11 dan abad ke-19, dilakukan perbaikan kembali.