gereja, papua, injili, gereja papua

Gereja diresmikan, Jemaat Eklesia Basal, Korupun pesta rakyat

0
Tampak depan bangunan Gereja GIDI Jemaat Eklesia Basal di Korupun. – Jubi/Dok. Yosua

Tampak depan bangunan Gereja GIDI Jemaat Eklesia Basal di Korupun. – Jubi/Dok. Yosua

Yahukimo, Jubi Masyarakat distrik Korupun, khususnya Jemaat Eklesia Basal, Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), di Kabupaten Yahukimo, kini bergembira setelah menantikan selama hampir empat tahun untuk berdirinya sebuah gereja permanen di pedalaman tersebut.

Ketua panitia pembangunan dan peresmian gereja GIDI Jemaat Eklesia Basal, Yosia J. Busup, S.Sos, pada Jumat (30/6/2017), mengatakan wujud kegembiraan jemaat dan hampir seluruh masyarakat di Korupun adalah dengan melangsungkan pesta rakyat sebagai bentuk syukuran selama dua hari berturut-turut—mulai 18-19 Juni lalu.

“Kami bersyukur dan rayakan dengan pesta rakyat selama dua hari,” kata Yosia, “Hari pertama, bakar batu babi 150 ekor, hari kedua 50 ekor,” jelasnya kepada Jubi.

Ratusan ekor babi tersebut merupakan sumbangan sukarela dari beberapa pihak termasuk masyarakat. Babi bernilai tinggi bagi sebagian besar masyarakat pedalaman Papua dan acapkali digunakan sebagai persembahan dalam pesta.

Yosua menjelaskan, bangunan gereja yang terbuat dari setengah beton dan kayu tersebut berukuran 9×12 meter persegi. Meski kepanitiaannya dibentuk pada 2011, namun pegerjaannya baru dapat dilakukan per 2013, oleh tenaga yang terbatas.

“Tukangnya hanya satu orang dan dibantu enam orang dari anggota jemaat. Hanya mereka yang kerja,” ujarnya.

Pembangunan gereja yang menghabiskan dana lebih dari Rp1,1 miliar itu, awalnya dilakukan dengan peralatan sederhana seperti tas noken sebagai pengganti gerobak untuk membawa batu dari kali, hingga berdatangan peralatan dari kota.

“Selain yang kerja sedikit, pekerjaan terkadang stop karena sakit, atau cuaca juga. Lalu peralatan dan transportasi yang sulit dari kota ke distrik. Hal seperti itu yang buat jadi lama,” jelas Yosua.

Untuk diketahui, distrik Korupun berada di pedalaman kabupaten Yahukimo dan hanya bisa ditempuh dengan pesawat kecil, sejenis Pilatus Advent, dari kota Dekai dan Sentani.

“(Gereja) yang lama hanya dari kayu dan kecil, kadang jemaat lain duduk di luar. Tapi sakarang jemaat senang karena gereja permanen dan lebih luas jadi semua bisa masuk di gereja,” ucap Yosua.

Yosua, mewakili seluruh panitia dan jemaat, menyampaikan, “Terima kasih banyak kepada seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan gereja ini, diantaranya Bupati Yahukimo, Ketua DPRD Yahukimo, Ketua PKK Yahukimo, Tony Uk, SH (anggota DPRD Dapil 4), Kepala Distrik Korupun, serta seluruh masyarakat.”

Toni Uk, Anggota DPRD dari Dapil 4, turut menyumbang sejumlah bahan pokok dan dua ekor babi. Wakil rakyat yang juga kader GIDI itu memaknai dalam sumbangan tersebut.

“Bantuan ini saya berikan sebagai persembahan dan perpuluhan, jangan dilihat nilainya,” ucapnya. “Saya sebagai anak gereja, kita berangkat dari gereja dan orang tua saya terima Injil di daerah ini (Korupun). Jadi, kita wajib mendukung pembangunan gereja dan jemaat, menjadi dewasa dalam keimanan,” ucap anggota komisi A tersebut.

Terpisah, Bupati Abock Busup, MA, menyatakan, sesuai visi dan misi, pemerintahannya akan selalu mendukung program-program keagamaan di wilayahnya, termasuk kegiatan gerejawi.

“Kepemimpinan kami mendukung program jemaat karena melalui itu jemaat bisa datang beribadah dan melayani Tuhan. Kami juga memimpin penuh pembangunan Gereja, ini susuai dengan visi dan misi kami,” kata Bupati.

Sementara itu, Ketua Wilayah GIDI Yahukimo Pdt. Menas D. Mirin, S.Th mengapresiasi seluruh jemaat yang turut ambil bagian dalam pembangunan tersebut, dan berpesan, “Terlebih penting adalah Jemaat bisa percaya Yesus dan menerima Dia secara pribadi lalu membangun bait Allah…karena membangun tubuh Kristus yang lebih penting,” katanya. (*)

Bupati Mathius Buka Konferensi GIDI Klasis Cycloop Sentani ke-X

0
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.Th, ketika menyampaikan sambutan dalam kegiatan Konferensi GIDI Klasis Cycloop Sentani ke-X tahun 2017, di Balai Trans Sentani, Rabu (21/6).

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.Th, ketika menyampaikan sambutan dalam kegiatan Konferensi GIDI Klasis Cycloop Sentani ke-X tahun 2017, di Balai Trans Sentani, Rabu (21/6).

PASIFICPos.com – SENTANI – Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, membuka Konferensi X tahun 2017 Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Klasis Cycloop Sentani, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (21/6) kemarin siang, di Balai Transmigrasi, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura. Pembukaan kegiatan yang menjadi agenda tiga tahunan ini ditandai dengan pemukulan Tifa serta penyematan tanda peserta konferensi.

Usai pembukaan, Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada GIDI Klasis Cycloop Sentani yang menggelar konferensi X tahun 2017 yang direncanakan berlangsung selama lima hari.

Kita memberikan apresiasi untuk (GIDI) Klasis Cycloop yang hari ini (kemarin) bisa menyelenggarakan konferensi X. Ya, menurut saya ini penting untuk bagaimana perjalanan gereja sampai saat ini dan juga bagaimana rencana kedepan, ujarnya ketika dikonfirmasi wartawan usai membuka kegiatan Konferensi X Tahun 2017 GIDI Klasis Cycloop Sentani, Rabu (21/6) kemarin.

Mereka mengevaluasi dan juga mereka melihat, tadi (kemarin) kita sudah  memberikan beberapa hal atau arahan untuk bagaimana gereja harus menggumuli tantangan kita yang cukup serius. Karena itu, momen ini penting untuk merumuskan hal-hal tersebut, sambung dia.

Diharapkan, konferensi ini menghasilkan sesuatu yang lebih baik untuk diterapkan dalam kegiatan dan memberikan motivasi kepada seluruh jemaat gereja. Selain itu, kata Bupati Mathius, pemerintah tidak bisa jalan sendiri, karena harus merangkul berbagai pihak baik gereja dan agama-agama yang lain. Tapi, juga pihak adat supaya bersama-sama membangun daerah ini.

Melalui kegiatan konferensi ini, Bupati Mathius juga mengajak seluruh jemaat GIDI untuk mendukung pembangunan di Kabupaten Jayapura. Menurutnya, saat ini perbedaan yang ada di Bumi Khenambay Umbay (sebutan Kabupaten Jayapura) dengan keberagaman suku, budaya, adat dan agama harus dapat dimanfaatkan sebagai sebuah pondasi dalam membangun daerah.

Ia menilai, sejauh ini dengan perbedaan yang terjadi tidak menimbulkan konflik yang dapat mengganggu kestabilan pembangunan dan kondisi ini harus dipertahankan terus demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Kita bersyukur kabupaten ini terus kita jaga aman dan terkendali, juga itu karena doa-doa mereka yang terlibat luar biasa dalam proses pembangunan di Indonesia dan kontribusi dari gereja-gereja itu sangat besar sekali. Oleh karena itu, pemerintah wajib untuk membangun kemitraan dan hadir untuk bersama-sama guna memberikan penguatan-penguatan terhadap satu sama lain, tegas Mathius.

Hanya itu yang kita bisa lakukan dalam rangka kemitraan-kemitraan yang kita bangun ini. Kita berdoa mudah-mudahan konferensi ini bisa berlangsung baik dan menghasilkan keputusan-keputusan yang penting untuk masa depan gereja, namun juga untuk masa depan bangsa maupun daerah ini, tukasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Konferensi, Ev. Nelius Suhuniap, S.Th, mengatakan tujuan konferensi Klasis Cycloop Sentani ke-X ini adalah memiliki tiga tujuan diantaranya, pertama merencanakan dan sekaligus menetapkan hasil-hasil keputusan dalam melaksanakan keputusan rapat konferensi tertinggi di tingkat klasis, mengesahkan hasil-hasil keputusan menjadi program kerja dari badan pengurus yang baru (terpilih) untuk periode 2017-2020.

Kedua, lanjut Ev. Nelius yang juga Gembala Jemaat GIDI Bukit Tabor ini menyampaikan, berhubung badan pengurus GIDI Klasis Cycloop Sentani akan berakhir pada tahun 2017 ini, sehingga pihaknya akan melakukan pemilihan untuk badan pengurus yang baru periode 2017-2020 berdasarkan nama-nama calon yang sudah masuk pada pelaksanaan konferensi ini.

Ketiga, mengesahkan dan sekaligus melantik badan pengurus yang baru periode 2017-2020 pada tanggal 25 Juni 2017 mendatang.
Kita akan lantik badan pengurus yang baru pada tanggl 25 Juni nanti. Kegiatan konferensi yang merupakan agenda tiga tahunan ini akan berlangsung selama lima hari mulai dari tanggal 21-25 Juni 2017 mendatang, tandasnya.

Naman-nama calon yang sudah masuk untuk dipilih sebagai badan pengurus yang baru periode 2017-2020, yakni calon ketua (tunggal) adalah Pdt. Reinhard Ohee, S.Th, sedangkan untuk calon wakil ketua ada tiga nama yaitu Ev. Nelius Suhuniap, S.Th, Pdt. Tiban Wonda dan Pdt. Roberth Imbiri, untuk calon sekretaris ada satu nama dan untuk calon bendahara ada tiga nama yang sudah masuk untuk dipilih sebagai badan pengurus baru periode 2017-2020.