gereja, papua, injili, gereja papua

Gereja Katolik Minta PBB Investigasi Pelanggaran HAM Papua

0

Rekomendasi penyelidikan terhadap pelanggaran HAM di Papua datang dari Komisi Keadilan dan Perdamaian Gereja Katolik Keuskupan Brisbane, Australia.

Foto anak-anak Suku Dani di Papua, yang menjadi salah satu gambar ilustrasi dalam laporan Komisi Keadilan dan Perdamaian Gereja Katolik Brisbane (Foto: Komisi Keadilan dan Perdamaian Gereja Katolik Brisbane)

Foto anak-anak Suku Dani di Papua, yang menjadi salah satu gambar ilustrasi dalam laporan Komisi Keadilan dan Perdamaian Gereja Katolik Brisbane (Foto: Komisi Keadilan dan Perdamaian Gereja Katolik Brisbane)

BRISBANE, SATUHARAPAN.COM – Setelah sebagian hasil temuan mereka ke Papua sempat jadi berita ramai di media massa bulan lalu, Komisi Keadilan dan Perdamaian Gereja Katolik Keuskupan Brisbane, Australia, akhirnya melansir secara lengkap hasil temuan tersebut pada hari Minggu (1/5) di Brisbane dan hari ini di Jakarta. Dalam laporan yang diberi judul We Will Lose Everything, A Report of Human Right Fact Findings to West Papua  itu, laporan ini menerbitkan rekomendasi yang cukup progresif, termasuk mendesak adanya campur tangan PBB terhadap pelanggaran HAM di Papua dan bagi upaya penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua.

Dalam laporan setebal 24 halaman itu,  salah satu rekomendasi mereka adalah “Mendesak pemerintah-pemerintah di Pasifik, termasuk Australia, untuk mengupayakan intervensi Dewan Hak Asasi Manusia PBB dan Sidang Umum PBB untuk melakukan investigasi independen terhadap pelanggaran HAM di Papua.”

Selanjutnya, laporan yang merupakan hasil pencarian fakta yang dilakukan oleh Executive Officer Komisi, Peter Arndt dan Suster dari St Joseph Sydney, Susan Connelly, juga merekomendasikan agar “negara-negra di Pasifik, termasuk Australia, menekan pemerintah Indonesia secara langsung dan mengupayakan intervensi PBB untuk menyelenggarakan dialog antara Indonesia dengan para pemimpin rakyat Papua, United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), untuk mengidentifikasi jalur yang kredibel bagi penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua.”

Laporan ini dibuat setelah delegasi Komisi mengunjungi Merauke, Jayapura, Timika dan Sorong. Mereka berbicara dan mengorek keterangan dari penduduk Papua, termasuk saksi sejarah kecurangan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada tahun 1969. Sebagian dari laporan ini telah beredar awal Maret lalu yang dilaporkan oleh catholicleader.com.au.

Misi pencarian fakta ini  mewawancarai lebih dari 250 tokoh masyarakat di Jayapura, Merauke, Timika dan Sorong. Bukan hanya soal HAM, laporan itu juga  mendokumentasikan berbagai diskriminasi ekonomi, sosial dan agama di Papua, termasuk bagaimana penguasaan tanah telah lebih menguntungkan perusahaan multinasional sedangkan warga Papua dikecualikan dari kepemilikan dan pekerjaan.

Laporan tersebut mengungkap secara rinci bagaimana tim pencari fakta mengunjungi sejumlah tempat dan orang di Papua, hingga tiba pada rekomendasi tersebut. Pelanggaran HAM di masa lalu yang terus berlanjut hingga kini diutarakan dalam bentuk narasi maupun angka.

Sebagai contoh, disebutkan bahwa pada tahun 1977 terjadi pengeboman dan kelaparan selama tiga bulan di dataran tinggi Papua, yang diperkirakan menewaskan 25.000 orang. Pengeboman juga terjadi pada tahun 1997 yang merusak ladang dan ternak, yang menyebabkan kelaparan dan kematian ribuan penduduk desa.

Pada 1998 dilaporkan terjadi pembunuhan terhadap pria dan wanita yang sedang berdoa untuk kemerdekaan. Selain itu, dicatat pula pembunuhan terhadap tokoh Papua seperti Arnold Ap (1984), Dr. Thomas Wainggai (1996) dan Theys Eluay (2001) dan Kelly Kwalik (2009).

Lebih lanjut, disebutkan bahwa dalam dekade belakangan ini terjadi pelecehan dan intimidasi terhadap sejumlah lembaga-lembaga kemanusiaan internasional, termasuk Komite Internasional Palang Merah, lembaga Cordaid dari Belanda dan Peace Brigades International. “Organisasi-organisasi ini diusir dari Papua karena mereka membela HAM di wilayah mereka bekerja,” kata laporan itu.

“Delegasi Komisi yang berkunjung ke Papua pada bulan Februari 2016 menemukan tidak ada perbaikan dalam situasi HAM. Laporan pelanggaran HAM oleh anggota pasukan keamanan Indonesia tidak berkurang dan status ekonomi dan sosial rakyat Papua tidak meningkat. Sistem politik dan hukum Indonesia tidak mau dan tidak mampu mengatasi pelanggaran HAM di Papua,” demikian bunyi laporan tersebut.

“Banyak yang berbicara tentang adanya genosida dalam gerak lambat,” kata laporan itu.

Diakui, laporan ini bermula dari kedatangan delegasi ULMWP ke Australia dan melakukan presentasi tentang yang terjadi di Papua. Seminggu setelah pertemuan, Komisi  Keadilan dan Perdamaian Gereja Katolik Keuskupan Brisbane mengirimkan tim ke Papua.

Sebetulnya, demikian laporan ini memberi alasan, pada tahun 2015 pemimpin negara-negara Pasifik Selatan yang tergabung Pacific Islands Forum (PIF) Leader Summit di Port Moresby  telah merekomendasikan pencarian fakta ke Papua. Tetapi pemerintah Indonesia tidak mengizinkan. Padahal, salah satu tujuan Komisi mengirimkan delegasi  ke Papua adalah untuk membangun hubungan dengan gereja di Papua untuk berkolaborasi di masa mendatang di sekitar isu HAM dan lingkungan.

Karena RI tidak bersedia menerima misi PIF, maka dapat dikatakan Komisi ini menjadi salah satu misi pencari fakta tidak resmi dari Pasifik yang mengunjungi Papua.

Lebih jauh laporan itu mengatakan gereja dan organisasi masyarakat sipil di Pasifik harus melanjutkan membangun jejaring solidaritas dengan mitra mereka di Papua untuk mendukung advokasi dan aksi terhadap pelanggaran HAM serta mengupayakan penentuan nasib sendiri bagi rakyat dan pemimpin Papua, ULMWP.

Di Indonesia, laporan tersebut diluncurkan secara resmi di Jakarta pada Selasa, 3 Mei, oleh VIVAT International Indonesia, sebuah lembaga advokasi international.

Selengkapnya laporan ini, dapat dilihat di link ini: We Will Lose Everything.

Editor : Eben E. Siadari

Perempuan Katolik Papua Minta Paus Fransiskus Kunjungi Papua

0
Kunjungan uskup-uskup negara-negara Melanesia ke Jayapura. (Foto: Catholic Leader)

Kunjungan uskup-uskup negara-negara Melanesia ke Jayapura. (Foto: Catholic Leader)

JAYAPURA, SATUHARAPAN.COM – Sebuah organisasi yang menamai diri Perempuan Katolik Papua Barat (PKPB) meminta Paus Fransiskus datang ke Papua pada saat kunjungannya ke Indonesia tahun depan.

Permintaan itu mereka sampaikan kepada rombongan uskup dari Papua Nugini dan Kepulauan Solomon yang mengunjungi Jayapura pada 8 dan 9 April lalu. Sebanyak 20 uskup ada dalam rombongan itu, termasuk Uskup Agung Port Moresby, John Ribat dan Uskup Agung Honiara, Solomon, Adrian Smith.

Media Katolik yang berbasis di Australia, The Catholic Leader, melaporkan rombongan uskup dari negara-negara Melanesia itu mencoba menyerap aspirasi dan mendengar suara masyarakat Papua selama kunjungan yang tergolong langka itu.

Walau aktivis setempat hanya mendapat pemberitahuan singkat sebelum kunjungan, mereka sempat menitipkan aspirasi kepada rombongan uskup, termasuk dari Perempuan Katolik Papua Barat (PKPB).

PKPB menyampaikan sepucuk surat kepada rombongan uskup yang antara lain meminta agar dalam kunjungannya ke Indonesia tahun depan, Paus Fransiskus juga datang ke Papua.

Dalam surat itu, menurut Catholic Leader, PKPB menyatakan kesiapan menyambut kedatangan Paus Fransiskus.

Di bagian lain surat, PKPB menyampaikan laporan tentang keinginan rakyat Papua untuk menentukan nasib sendiri.

“Hanya sedikit orang asing dan bahkan lebih sedikit tamu terhormat seperti tuan-tuan yang diperbolehkan mendapatkan izin untuk datang (ke Papua), atau bersedia mengambil risiko mengunjungi wilayah kami,” kata surat PKPB.

“Kami ingin Anda tahu bahwa kami tidak bebas.”

“Kami dibatasi dalam situasi yang penuh kekerasan.”

“Karena polisi dan militer Indonesia, kami tidak merasa aman di tanah kami sendiri.”

“Kami ingin menentukan masa depan kami sendiri, secara bebas dan adil.”

“Kami ingin Anda tahu bahwa United Liberaton Movement for West Papua (ULMWP) mewakili kami. Mereka memiliki dukungan penuh kami.”

Yang dimaksud dengan ULMWP adalah organisasi yang terbentuk pada akhir tahun 2014, wadah bersama faksi-faksi dari gerakan kemerdekaan Papua Barat.

Saat ini ULMWP mendapat status pengamat di Melanesia Spearhead Group (MSG), sebuah forum regional yang berpengaruh di Pasifik Selatan, mencakup perwakilan dari Papua Nugini, Fiji, Kepulauan Solomon, Vanuatu dan gerakan perjuangan kemerdekaan Kaledonia Baru.

Lebih jauh, PKPB dalam suratnya juga menyalahkan pihak pemerintah RI atas terjadinya berbagai pelanggaran HAM dan menuduh gereja di tingkat lokal membisu mengenai hal itu.

“Rakyat kami mengalami kekerasan dan kematian karena tindakan brutal militer dan polisi Indonesia,” kata surat itu.

“Setiap hari semakin banyak migran tiba. Kami menjadi minoritas di tanah kami dan bahkan di gereja kami sendiri, sementara rakyat Indonesia menguasai semua aspek kehidupan.”

“Bahkan, mereka (negara) sering menjadi pelaku atau melindungi pelaku, sehingga kami merasa  tidak punya tempat mengadu.”

“Sayangnya Gereja Katolik di Papua Barat sebagian besar diam tentang hal ini dan tidak menyuarakan tangisan kami yang ingin mendapatkan keadilan.”

Surat itu menyerukan agar Konferensi Uskup mendorong Pacific Island Forum untuk segera mengirim misi pencari fakta tentang pelanggaran HAM ke Papua Barat.

Kunjungan uskup-uskup ini ke Jayapura berlangsung setelah sebelumnya terbit laporan dari pencari fakta yang berafiliasi dengan Gereja Katolik Brisbane, yang berisi tuduhan militer dan polisi melakukan intimidasi, pemukulan, penyiksaan, penculikan dan pembunuhan di Papua Barat.

Penulis laporan, Susan Connelly dari Kesusteran Josephite, adalah tokoh yang dihormati dan pembela HAM. Ia mengunjungi Papua Barat didampingi pejabat Komisi Keadilan dan Perdamaian dari Keuskupan Agung Brisbane, Peter Arndt.

Mereka mewawancarai lebih dari 250 tokoh masyarakat Papua.

Suster Connelly membandingkan situasi di sana sebagai perjalanan “melangkah kembali dua puluh tahun ketika saya pertama kali pergi ke Timor Timur”.

Editor : Eben E. Siadari